Kritik & saran positif silakan di email abd.kholik99@gmail.com / abd.kholik67@yahoo.com

Selasa, 27 November 2012

JURNAL STANDAR : Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat

JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 1
JURNAL STANDAR
Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat terdiri dari Sistem Akuntansi Pusat dan Sistem
Akuntansi Instansi. Kedua sistem tersebut mempunyai sub sistem pendukung berupa:
1. Sistem Akuntansi Pusat
a. Sistem Akuntansi Kas Umum Negara;
b. Sistem Akuntansi Umum
2. Sistem Akuntansi Instansi.
a. Sub Sistem Akuntansi Tingkat Satuan Kerja (UASK);
b. Sub Sistem Akuntansi Tingkat Wilayah (UAW);
c. Sub Sistem Akuntansi Tingkat Eselon I (UAE I) dan;
d. Sub Sistem Akuntansi Kantor Pusat Instansi (Kementerian Negara/Lembaga
(UAKPI).
Masing - masing sistem tersebut dalam pelaksanaannya akan melakukan proses akuntansi yang
akan dimulai dari dokumen sumber sampai menghasilkan suatu laporan keuangan. Dalam
pelaksanaan proses akuntansi tersebut perlu dilakukan penjurnalan terhadap masing masing
transaksi keuangan yang dilakukan. Bagian ini akan membahas secara detail mengenai Jurnal
Standar yang dipergunakan dalam memproses transaksi-transaksi keuangan dimaksud. Jurnal
Standar dikelompokkan menjadi lima kelompok besar yaitu :
1. Jurnal standar APBN.
2. Jurnal standar DIPA.
3. Jurnal standar Saldo Awal.
4. Jurnal standar Realisasi.
5. Jurnal standar Penutup.
Masing masing Jurnal Standar akan dikelompokkan lagi kedalam Jurnal Standar untuk
Sistem Akuntansi Instansi (SAI), Sistem Akuntansi Umum (SAU) dan Sistem Akuntansi Kas
Umum Negara (SAKUN).
1. Jurnal Standar APBN
Jurnal Standar APBN terdiri dari Estimasi Pendapatan, Appropriasi belanja, Estimasi
Penerimaan Pembiayaan dan Appropriasi Pengeluaran Pembiayaan.
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 2
A. Estimasi Penerimaan
Jurnal Standar untuk Estimasi Pendapatan dilakukan dengan mendebet perkiraan
Estimasi Pendapatan masing-masing jenis pendapatan, dan mengkredit Surplus/defisit dengan
jumlah yang sama dengan besarnya estimasi pendapatan dalam APBN. Jurnal Standar untuk
estimasi pendapatan hanya dilakukan oleh SAKUN, sedangkan pada SAI dan SAU transaksi ini
tidak dijurnal. Jurnal standar dimaksud adalah:
a. Estimasi Penerimaan Perpajakan.
DR. Estimasi Pendapatan Pajak + uraian MAP XXX
CR. Surplus/Defisit XXX
b. Estimasi Penerimaan Negara Bukan Pajak.
DR. Estimasi Pendapatan Negara Bukan Pajak + uraian MAP XXX
CR. Surplus/Defisit XXX
c. Estimasi Penerimaan Hibah.
DR. Estimasi Pendapatan Hibah+ uraian MAP XXX
CR. Surplus/Defisit XXX
B. Appropriasi Belanja
Jurnal Standar untuk Appropriasi Belanja dilakukan dengan mendebet perkiraan
Surplus/defisit, dan mengkredit Appropriasi belanja dari masing-masing jenis belanja dengan
jumlah yang sama dengan besarnya apropriasi belanja dalam APBN. Jurnal Standar aprropriasi
belanja hanya dilakukan oleh SAKUN, sedangkan pada SAI dan SAU transaksi ini tidak dijurnal.
Jurnal standar dimaksud adalah:
a. Appropriasi Belanja Pegawai.
DR. Surplus/Defisit XXX
CR. Appropriasi Belanja Pegawai + uraian MAK XXX
b. Appropriasi Belanja Barang.
DR. Surplus/Defisit XXX
CR. Appropriasi Belanja Barang + uraian MAK XXX
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 3
c. Appropriasi Belanja Modal.
DR. Surplus/Defisit XXX
CR. Appropriasi Belanja Modal + uraian MAK XXX
d. Appropriasi Belanja Pembayaran Bunga Utang.
DR. Surplus/Defisit XXX
CR. Appropriasi Belanja Pemabayaran Bungan Utang + uraian MAK XXX
e. Appropriasi Belanja Subsidi.
DR. Surplus/Defisit XXX
CR. Appropriasi Belanja Subsidi + uraian MAK XXX
f. Appropriasi Belanja Hibah.
DR. Surplus/Defisit XXX
CR. Appropriasi Belanja Hibah + uraian MAK XXX
g. Appropriasi Belanja Bantuan Sosial.
DR. Surplus/Defisit XXX
CR. Appropriasi Belanja Bantuan Sosial + uraian MAK XXX
h. Appropriasi Belanja Lain-lain.
DR. Surplus/Defisit XXX
CR. Appropriasi Belanja Lain-lain + uraian MAK XXX
i. Appropriasi Belanja Dana Perimbangan.
DR. Surplus/Defisit XXX
CR. Appropriasi Belanja Dana Perimbangan + uraian MAK XXX
j. Appropriasi Belanja Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian
DR. Surplus/Defisit XXX
CR. Appropriasi Belanja Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian + uraian MAK XXX
C. Estimasi Penerimaan Pembiayaan.
Jurnal Standar untuk Estimasi Penerimaan Pembiayaan dilakukan dengan mendebet
perkiraan Estimasi Penerimaan Pembiayaan masing-masing jenis penerimaan pembiayaan, dan
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 4
mengkredit Pembiayaan Netto dengan jumlah yang sama dengan besarnya estimasi penerimaan
pembiayaan dalam APBN. Jurnal Standar ini hanya dilakukan oleh SAKUN, sedangkan pada SAI
dan SAU transaksi ini tidak dijurnal. Jurnal standar dimaksud adalah:
DR. Estimasi Penerimaan Pembiayaan + uraian MAP XXX
CR. Pembiayaan Netto XXX
D. Appropriasi Pengeluaran Pembiayaan.
Jurnal Standar untuk Apropriasi Pengeluaran Pembiayaan dilakukan dengan mendebet
perkiraan Pembiayaan Netto, dan mengkredit Appropriasi Pengeluaran Pembiayaan dengan
jumlah yang sama. Jurnal Standar ini hanya dilakukan oleh SAKUN, sedangkan pada SAI dan
SAU transaksi ini tidak dijurnal. Jurnal standar dimaksud adalah:
DR. Pembiayaan Netto XXX
CR. Appropriasi Pengeluaran Pembiayaan + uraian MAK XXX
2. Jurnal Standar DIPA
Jurnal Standar DIPA terdiri dari Estimasi Pendapatan yang dialokasikan, Allotment
belanja, Estimasi Penerimaan Pembiayaan yang dialokasikan dan Allotment Pengeluaran
Pembiayaan.
A. Estimasi Penerimaan yang dialokasikan.
Jurnal Standar untuk Estimasi Pendapatan yang dialokasikan dilakukan pada dua sistem
yaitu SAI dan SAU, sedangkan pada SAKUN transaksi ini tidak dijurnal. Pada SAI, transaksi ini
dijurnal dengan mendebet Estimasi Pendapatan yang Dialokasikan, dan mengkredit Utang
Kepada KUN dengan jumlah yang sama dengan jenis pendapatan yang ada dalam DIPA.
Sedangkan untuk SAU, transaksi ini dijurnal dengan mendebet Estimasi Pendapatan yang
Dialokasikan, dan mengkredit Utang Kepada KUN dengan jumlah yang sama dengan jenis
pendapatan yang ada dalam DIPA. Jurnal standar dimaksud pada SAI dan SAU:
a. Estimasi Penerimaan Perpajakan yang dialokasikan.
DR. Estimasi Pendapatan Pajak yang dialokasikan + uraian MAP XXX
CR. Utang kepada KUN XXX
b. Estimasi Penerimaan Negara Bukan Pajak yang dialokasikan.
DR. Estimasi Pendapatan Negara Bukan Pajak yang dialokasikan + uraian MAP XXX
CR. Utang kepada KUN XXX
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 5
c. Estimasi Penerimaan Hibah yang dialokasikan.
DR. Estimasi Pendapatan Hibah yang dialokasikan + uraian MAP XXX
CR. Surplus/Defisit XXX
B. Allotment Belanja.
Jurnal Standar untuk Allotment Belanja dilakukan pada dua sistem yaitu SAI dan SAU,
sedangkan pada SAKUN transaksi ini tidak dijurnal. Pada SAI, transaksi ini dijurnal dengan
mendebet Piutang dari BUN, dan mengkredit Allotment Belanja ditambah uraian MAK dari masingmasing
allotment belanja dalam DIPA. Untuk SAU, jurnal yang dibuat sama dengan SAI yaitu
transaksi ini dijurnal dengan mendebet Estimasi Pendapatan yang Dialokasikan, dan mengkredit
Utang Kepada KUN dengan jumlah yang sama dengan jenis belanja dalam DIPA. Jurnal standar
dimaksud pada SAI dan SAU:
a. Allotment Belanja Pegawai.
DR. Piutang dari KUN XXX
CR. Allotment Belanja Pegawai + uraian MAK XXX
b. Allotment Belanja Barang.
DR. Piutang dari KUN XXX
CR. Allotment Belanja Barang + uraian MAK XXX
c. Allotment Belanja Modal.
DR. Piutang dari KUN XXX
CR. Allotment Belanja Modal + uraian MAK XXX
d. Allotment Belanja Pembayaran Bunga Utang.
DR. Piutang dari KUN XXX
CR. Allotment Belanja Pemabayaran Bungan Utang + uraian MAK XXX
e. Allotment Belanja Subsidi.
DR. Piutang dari KUN XXX
CR. Allotment Belanja Subsidi + uraian MAK XXX
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 6
f. Allotment Belanja Hibah.
DR. Piutang dari KUN XXX
CR. Allotment Belanja Hibah + uraian MAK XXX
g. Allotment Belanja Bantuan Sosial.
DR. Piutang dari KUN XXX
CR. Allotment Belanja Bantuan Sosial + uraian MAK XXX
h. Allotment Belanja Lain-lain.
DR. Piutang dari KUN XXX
CR. Allotment Belanja Lain-lain + uraian MAK XXX
i. Allotment Belanja Dana Perimbangan.
DR. Piutang dari KUN XXX
CR. Allotment Belanja Dana Perimbangan + uraian MAK XXX
j. Allotment Belanja Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian
DR. Piutang dari KUN XXX
CR. Allotment Belanja Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian + uraian MAK XXX
C. Estimasi Penerimaan Pembiayaan yang dialokasikan.
Jurnal Standar untuk Estimasi Penerimaan Pembiayaan yang Dialokasikan dilakukan
pada dua sistem yaitu SAI dan SAU, sedangkan pada SAKUN transaksi ini tidak dijurnal. Pada
SAI dan SAU transaksi ini dijurnal dengan mendebet Estimasi Penerimaan pembiayaan yang
Dialokasikan, dan mengkredit Utang Kepada KUN dengan jumlah yang sama dengan jenis
penerimaan pembiayaan dalam DIPA. Jurnal standar dimaksud pada SAI dan SAU:
DR. Estimasi Penerimaan Pembiayaan yang dialokasikan+ uraian MAP XXX
CR. Utang kepada KUN XXX
D. Allotment Pengeluaran Pembiayaan.
Jurnal Standar untuk Allotment Pengeluaran Pembiayaan dilakukan pada dua sistem
yaitu SAI dan SAU, sedangkan pada SAKUN transaksi ini tidak dijurnal. Pada SAI, transaksi ini
dijurnal dengan mendebet Piutang dari KUN, dan mengkredit Allotment Pengeluaran Pembiayaan
dari masing-masing jenis pembiayaan dalam DIPA. Untuk SAU, jurnal yang dibuat sama dengan
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 7
SAI yaitu transaksi ini dijurnal dengan mendebet Piutang dari KUN, dan mengkredit Allotment
Pengeluaran Pembiayaan dari masing-masing jenis pembiayaan dalam DIPA. Jurnal standar
dimaksud pada SAI dan SAU:
DR. Piutang dari KUN XXX
CR. Appropriasi Pengeluaran Pembiayaan + uraian
MAK
XXX
3. Jurnal Standar Saldo Awal
Jurnal Standar Saldo awal terdiri dari beberapa jurnal untuk saldo awal neraca, antara lain
saldo awal Kas, Piutang, Persediaan, Aset Tetap, Aset Lainnya, Investasi Jangka Pendek,
Investasi jangka Panjang , Utang PFK, Bagian Lancar Hutang, dan Hutang jangka Panjang
a. Jurnal Standar untuk Saldo Awal Kas terdiri dari:
• Kas di Bendahara Pembayar:
Jurnal SAI dan SAU adalah :
DR Kas di Bendahara Pembayar XXX
CR Uang Muka dari KUN (KPPN/BUN/Reksus) XXX
Jurnal SAKUN:
DR Kas di Bendahara Pembayar XXX
CR SAL XXX
• Kas di Bendahara Penerima:
Jurnal SAI dan SAU adalah :
DR Kas di Bendahara Penerima XXX
CR Pendapatan yang ditangguhkan XXX
Jurnal SAKUN:
Tidak ada jurnal
• Kas di BI, KPPN.
Jurnal SAI dan SAU :
Tidak ada Jurnal
Jurnal SAKUN adalah:
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 8
DR Kas di Bank Indonesia XXX
CR SAL XXX
DR Kas di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara XXX
CR SAL XXX
b. Jurnal Standar untuk Saldo awal Piutang
Jurnal Standar untuk Saldo awal Piutang, hanya dilakukan di SAI dan SAU, sedangkan
SAKUN tidak ada jurnal. Jurnal untuk SAI dan SAU dilakukan dengan mendebet akun Piutang dan
mengkredit akun Cadangan Piutang dengan jumlah yang sama. Jurnal standar saldo awal piutang
adalah:
DR Piutang XXX
CR Cadangan Piutang XXX
c. Jurnal Standar untuk Saldo awal Persediaan
Jurnal Standar untuk Saldo awal Persediaan hanya dilakukan pada SAI dan SAU, jurnal
untuk saldo awal piutang dilakukan dengan mendebet akun Persediaan, dan mengkredit akun
Cadangan Persediaan. Jurnal standar saldo awal persediaan adalah:
DR Persediaan XXX
CR Cadangan Persediaan XXX
d. Jurnal Standar untuk Saldo awal Aset Tetap
Jurnal Standar untuk Saldo awal Aset Tetap hanya dilakukan di SAI dan SAU, sedangkan
pada SAKUN saldo awal tidak ada jurnal. Jurnal untuk SAI dan SAU dilakukan dengan mendebet
masing-masing akun Asset Tetap serta mengkredit akunt Diinvestasikan dalam Aset tetap dengan
jumlah yang sama.
Jurnal Standar untuk saldo awal ini adalah:
DR Tanah XXX
DR Peralatan dan Mesin XXX
DR Gedung dan Bangunan XXX
DR Jalan, Irigasi dan Jaringan XXX
DR Aset tetap Lainnya XXX
DR Kontruksi dalm Pengerjaan XXX
CR Diinvestasikan dalam Aset Tetap XXX
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 9
e. Jurnal Standar Saldo Awal Aset Lainnya
Jurnal Standar untuk Saldo Awal Aset Lainnya seperti TGR, Tagihan Penjualan Angsuran
dan lain sebagainya hanya dilakukan di SAI dan SAU. Jurnal Standar untuk hal ini dilakukan
dengan mendebet akun Aset Lainnya, dan mengkredit akun Diinvestasikan dalam asset tetap
lainnya. Jurnal standar saldo awal asset tetap lainnya adalah:
DR Aset Lainnya XXX
CR Diinvestasikan dalam Aset Lainnya XXX
f. Jurnal Standar untuk Saldo Awal Investasi
Jurnal Standar untuk Saldo Awal Investasi baik jangka pendek maupun jangka panjang
hanya dilakukan di SAI dan SAU. Jurnal Standar dilakukan dengan mendebet akun saldo awal
masing-masing investasi dan mengkredit akun Diinvestasikan Dalam Investasi Jangka Panjang
atau Investasi jangka pendek dengan jumlah yang sama. Jurnal saldo awal Investasi adalah:
DR Investasi Jangka Pendek XXX
CR Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Pendek XXX
DR Investasi Jangka Panjang XXX
CR Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang XXX
g. Jurnal Standar untuk Saldo Awal Hutang Jangka Pendek
Jurnal Standar untuk Saldo Awal Utang Jangka Pendek dilakukan di SAI, SAU maupun
SAKUN. Jurnal yang dilakukan di SAKUN hanya menyangkut untuk Utang PFK. Jurnal dilakukan
dengan mendebet Dana yang disediakan untuk pembayaran Hutang Jangka Pendek dan
mengkredit masing-masing akun hutang jangka pendek dengan jumlah yang sama. Jurnal
standarnya adalah:
Jurnal untuk SAI, SAU dan SAKUN:
DR Dana yang harus disediakan untuk pembayaran Utang Jangka Pendek XXX
CR Kewajiban Jangka Pendek XXX
h. Jurnal Standar untuk Saldo Awal Hutang Jangka Panjang
Jurnal Standar untuk Saldo Awal Hutang Jangka Panjang dilakukan di SAI dan SAU,
dengan mendebet akun Dana Yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Hutang Jangka Panjang
dan mengkredit akun masing-masing saldo utang jangka panjang.
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 10
DR Dana yang harus disediakan untuk pembayaran Utang Jangka Panjang XXX
CR Kewajiban Jangka Panjang XXX
4. Jurnal Standar Realisasi Anggaran
Jurnal Standar untuk realisasi anggaran dapat dikelompokkan kedalam beberapa jenis
antara lain: Jurnal Standar UYHD, Realisasi Pendapatan, Belanja, Penerimaan Pembiayaan,
Pengeluaran Pembiayaan serta Jurnal Standar Non Anggaran.
Jurnal Standar untuk UYHD antara lain terdiri dari:
a. Jurnal Standar Penyediaan Uang Persediaan . Jurnal Standar ini dilakukan baik pada
SAI, SAU dan SAKUN. Jurnal Standa runtuk SAI dan SAU dilakukan dengan mendebet
akun Kas di Bendaharawan Pembayar dan mengkredit Uang Muka Dari
KPPN/BUN/Reksus. Sedangkan untuk SAKUN dilakukan dengan mendebet perkiraan
Pengeluaran Transito dan mengkredit Kas di KPPN/BUN/Reksus.
Jurnal Standar SAI dan SAU adalah:
DR Kas di Bendaharawan Pembayar XXX
CR Uang Muka dari KUN (KPPN/BUN/Reksus) XXX
Jurnal Standar SAKUN
DR Pengeluaran Transito XXX
CR Kas di KPPN/BUN/Reksus XXX
b. Jurnal Standar Pengembalian/Setoran Uang Persediaan. Jurnal Standar ini dilakukan
baik pada SAI, SAU maupun SAKUN. Jurnal Standar untuk SAI dan SAU dilakukan
dengan mendebet Uang Muka dari KPPN/BUN/Reksus dan mengkredit Kas di
Bendaharawan Pembayar sejumlah dana UYHD yang dikembalikan/disetor. Sedangkan
untuk SAKUN dilakukan dengan mendebet Kas di KPPN/BUN/Reksus dan mengkredit
Penerimaan Transito.
Jurnal Standar SAI dan SAU:
DR Uang Muka dari KUN (KPPN/BUN/Reksus) XXX
CR Kas di Bendaharawan Pembayar XXX
Jurnal Standar SAKUN:
DR Kas di KUN (KPPN/BUN/Reksus) XXX
CR Penerimaan Transito XXX
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 11
c. Jurnal Standar Realisasi Pendapatan. Jurnal untuk transaksi ini dilakukan baik pada
SAI, SAU maupun SAKUN. Jurnal Standar SAI dan SAU untuk realisasi pendapatan
dilakukan dengan mendebet akun Hutang Kepada KUN dan mengkredit masing-masing
jenis akun realisasi pendapatan.
Jurnal untuk SAI dan SAU adalah:
DR Hutang Kepada KUN XXX
CR Pendapatan Pajak + uraian MAP XXX
CR Pendapatan Negara Bukan Pajak + uraian MAP XXX
Untuk SAKUN penjurnalan transaksi ini dilakukan dengan mendebet akun Kas di KUN
dan mengkredit akun masing-masing jenis akun realisasi Pendapatan.
Jurnal untuk SAKUN adalah:
DR Kas di KUN (KPPN/BUN/Reksus) XXX
CR Pendapatan Pajak + uraian MAP XXX
CR Pendapatan Negara Bukan Pajak + uraian MAP XXX
d. Jurnal Standar Pengembalian Pendapatan. Jurnal dilakukan pada SAI dan SAU
dengan cara mendebet akun Pengembalian Pendapatan ditambah uraian MAP serta
mengkredit akun Hutang Kepada KUN.
Jurnal untuk SAI dan SAU adalah:
DR Pengembalian Pendapatan Pajak + uraian MAP XXX
DR Pengembalian Pendapatan Negara Bukan Pajak + uraian MAP XXX
CR Hutang Kepada KUN XXX
Untuk SAKUN, penjurnalan transaksi ini dilakukan dengan mendebet akun Pengembalian
Pendapatan + uraian MAP dan mengkredit akun Kas di KPPN.
Jurnal SAKUN adalah:
DR Pengembalian Pendapatan Pajak + uraian MAP XXX
DR Pengembalian Pendapatan Negara Bukan Pajak + uraian MAP XXX
CR Kas di KUN (KPPN/BUN/Reksus) XXX
e. Jurnal Standar Realisasi Belanja. Jurnal pada SAI dan SAU dilakukan dengan
mendebet masing-masing akun Belanja, dan mengkredit Piutang dari KUN.
Jurnal SAI dan SAU adalah:
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 12
DR Belanja + Uraian MAK XXX
CR Piutang dari KUN XXX
Untuk SAKUN penjurnalan transaksi ini dilakukan dengan mendebet masing-masing akun
Belanja, dan mengkredit akun Kas di KPKN/BUN.
Jurnal SAKUN adalah:
DR Belanja + Uraian MAK XXX
CR Kas di KPPN/BUN XXX
Khusus realisasi Belanja Modal, terdapat perlakuan khusus dalam pencatatan transaksi
ini karena pada saat belanja modal direalisasikan tidak hanya transaksi keuangan yang
terkait namun juga transaksi asset. Pencatatan ini seringkali disebut dengan jurnal ikutan
atau jurnal korolari yang mengikuti setiap ada belanja modal. Jurnal korolari ini hanya
dicatat dalam SAI dan SAU dengan cara mendebet akun Aset Tetap Sebelum
disesuaikan, dan mengkredit akun Diinvestasikan dalam Aset Tetap. Jurnal untuk SAI dan
SAU adalah:
DR Belanja Modal + Uraian MAK XXX
CR Kas di KPPN/BUN XXX
Jurnal kololari SAI dan SAU adalah:
DR Aset Tetap Sebelum Disesuaikan XXX
CR Diinvestasikan Dalam Aset Tetap XXX
Pada saat asset tetap diakui Jurnal Standar di SAI akan dilakukan penyesuaian dengan
mendebet perkiraan Aset tetap yang sudah definitif, dan mengkredit akun Diinvestasikan
dalam Aset Tetap. Selain itu apabila asset tetap telah diakui maka harus ada proses
pembatalan jurnal korolari yang pernah dibuat saat terjadi belanja modal yaitu dengan
mendebet akun Diinvestasikan dalam Aset Tetap dan mengkredit akun Aset Tetap
Sebelum Desesuaikan.
Jurnal untuk kedua hal tersebut adalah:
DR Aset Tetap XXX
CR Diinvestasikan Dalam Aset Tetap XXX
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 13
Penghapusan Korolari;
DR Diinvestasikan Dalam Aset Tetap XXX
CR Aset Tetap Sebelum Disesuaikan XXX
f. Jurnal Standar Realisasi Perngembalian Belanja. Jurnal pada SAI dan SAU dilakukan
dengan mendebet akun Pitang dari KUN, dan mengkredit Pengembalian Belanja.
Jurnal pada SAI dan SAU adalah:
DR Piutang dari KUN XXX
CR Pengembalian Belanja + uraian MAK XXX
Untuk SAKUN penjurnalan transaksi ini dilakukan dengan mendebet akun Kas di
KPPN/BUN, dan mengkredit akun Pengembalian Belanja.
Jurnal pada SAKUN adalah:
DR Kas di KPPN/BUN XXX
CR Pengembalian Belanja + uraian MAK XXX
g. Jurnal Standar Realisasi Penerimaan Pembiayaan. Jurnal dilakukan baik pada SAI,
SAU maupun SAKUN. Jurnal Standar SAI dan SAU untuk realisasi penerimaan
Pembiayaan dilakukan dengan mendebet akun Hutang Kepada KUN dan mengkredit
masing-masing jenis akun Penerimaan Pembiayaan.
Jurnal pada SAI dan SAU adalah:
DR Hutang Kepada KUN XXX
CR Penerimaan Pembiayaan + uraian MAP XXX
Untuk SAKUN penjurnalan transaksi ini dilakukan dengan mendebet akun Kas di BI dan
mengkredit akun masing-masing jenis akun penerimaan Pembiayaan.
Jurnal pada SAKUN adalah:
DR Kas di Bank Indonesia XXX
CR Penerimaan Pembiayaan + uraian MAP XXX
h. Jurnal Standar Pengembalian Penerimaan Pembiayaan. Jurnal pada SAI dan SAU
dilakukan dengan cara mendebet akun Pengembalian Penerimaan Pembiayaan serta
mengkredit akun Hutang Kepada KUN.
Jurnal SAI dan SAU adalah:
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 14
DR Pengembalian Penerimaan Pembiayaan + uraian MAP XXX
CR Hutang Kepada KUN XXX
Untuk SAKUN, penjurnalan transaksi ini dilakukan dengan mendebet akun Pengembalian
Penerimaan Pembiayaan mengkredit akun Kas di BI.
Jurnal pada SAKUN adalah:
DR Pengembalian Penerimaan Pembiayaan + uraian MAP XXX
CR Kas di Bank Indonesia XXX
i. Jurnal Standar Realisasi Pengeluaran Pembiayaan. Jurnal SAI dan SAU dilakukan
dengan mendebet masing-masing akun Pengeluaran Pembiayaan, dan mengkredit
Piutang dari KUN.
Jurnal SAI dan SAU adalah:
DR Pengeluaran Pembiayaan + uraian MAK XXX
CR Piutang dari KUN XXX
Untuk SAKUN penjurnalan transaksi ini dilakukan dengan mendebet masing-masing akun
Pengeluaran Pembiayaan, dan mengkredit akun Kas di BI.
Jurnal SAKUN adalah:
DR Pengeluaran Pembiayaan + uraian MAK XXX
CR Kas di Bank Indonesia XXX
Khusus realisasi Pengeluaran Pembiayaan, terdapat perlakuan khusus dalam pencatatan
transaksi ini karena pada saat terjadi belanja yang bersumber dari Pinjaman
direalisasikan tidak hanya transaksi keuangan yang terkait namun juga transaksi
Kewajiban. Pencatatan ini seringkali disebut dengan jurnal ikutan atau jurnal korolari yang
mengikuti setiap ada Belanja yang bersumber dari pinjaman. Jurnal korolari ini hanya
dicatat dalam SAI dan SAU dengan cara mendebet akun Dana yang harus disediakan
untuk pembayaran utang jangka pendek/panjang, dan mengkredit akun Utang jangka
pendek/panjang.
Jurnal untuk SAI dan SAU adalah:
DR Dana yang harus disediakan untuk pembayaran utang
(Jangka Pendek/Jangka Panjang)
XXX
CR Utang Jangka Pendek/Panjang XXX
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 15
j. Jurnal Standar Realisasi Perngembalian Pengeluaran Pembiayaan. Jurnal SAI dan
SAU dilakukan dengan mendebet akun Piutang dari KUN, dan mengkredit Pengembalian
Pengeluaran Pembiayaan.
Jurnal SAI dan SAU adalah:
DR Piutang dari KUN XXX
CR Pengembalian Pengeluaran Pembiayaan + uraian MAK XXX
Untuk SAKUN penjurnalan transaksi ini dilakukan dengan mendebet akun Kas di BI, dan
mengkredit akun Pengembalian Belanja.
Jurnal SAKUN adalah:
DR Kas di Bank Indonesia XXX
CR Pengembalian Pengeluaran Pembiayaan + uraian MAK
XXX
k. Jurnal Standar Transaksi non Anggaran. Jurnal untuk transaksi non Anggaran hanya
terdapat di SAKUN saja, sedangkan pada SAI dan SAU tidak dijurnal. Jurnal untuk
transaksi non Anggaran antara lain jurnal Perhitungan Pihak Ketiga dan Kiriman Uang.
Jurnal tersebut terdiri dari jurnal penerimaan dan pengeluaran adapun standar jurnal
dimaksud adalah:
• Jurnal Standar Penerimaan Non Anggaran:
DR. Kas Di KPKN XXX
CR Penerimaan FPK XXX
CR Penerimaan Kiriman Uang XXX
CR Penerimaan Wesel Pemerintah XXX
• Jurnal Standar Pengeluaran Non Anggaran :
DR. Pengeluaran PFK XXX
DR. Pengeluaran Kiriman Uang XXX
DR. Penerimaan Wesel Pemerintah XXX
CR. Kas di KPKN XXX
5. Jurnal Standar Penutup
Jurnal penutup mencakup SAI, SAU dan SAKUN dimana bertujuan untuk menutup seluruh
perkiraan – perkiraan sementara yang bertujuan untuk penyusunan laporan keuangan. Jurnal
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 16
penutup dimaksud akan terdiri dari jurnal penutup Anggaran dengan Realisasinya. Untuk
perkiraan – perkiraan yang akan masuk kedalam unsur Neraca tidak dilakukan penutupan.
A. Jurnal Penutup SAKUN.
Jurnal yang ditutup dalam SAKUN adalah seluruh jurnal APBN, Pembiayaan Neto dan SILPA.
Jurnal penutup SAKUN dilakukan dengan mendebet seluruh akun yang berada di sisi kredit
dan mengkredit seluruh akun yang berada di sisi debet. Jurnal standar dimaksud adalah:
a. Jurnal Penutup Estimasi Pendapatan
Jurnal ini ditutup dengan cara mendebet masing-masing akun Pendapatan dan
mengkredit Estimasi Pendapatan yang bersangkutan, serta memasukkan
selisihnya pada akun Surplus/Defisit. Jurnal dimaksud adalah:
DR. Pendapatan Pajak XXX
DR. Pendapatan Negara Bukan Pajak XXX
DR. Pendapatan Hibah XXX
DR. Surplus/ Defisit XXX
CR Estimasi Pendapatan Pajak XXX
CR Estimasi Pendapatan Negara Bukan Pajak XXX
CR Estimasi Hibah XXX
b. Jurnal Penutup Appropriasi Belanja
Jurnal ini dilakukan dengan cara mendebet masing-masing akun Appropriasi
Belanja dan mengkredit masing-masing akun belanja, serta mememasukkan
selisihnya pada akun Surplus Defisit. Jurnal dimaksud adalah:
DR. Appropriasi Belanja Pegawai XXX
DR. Appropriasi Belanja Barang XXX
DR. Appropriasi Belanja Modal XXX
DR. Appropriasi Belanja Pembayaran Bunga Utang XXX
DR. Appropriasi Belanja Subsidi XXX
DR. Appropriasi Belanja Hibah XXX
CR Surplus/Defisit XXX
CR Belanja Pegawai XXX
CR. Belanja Barang XXX
CR. Belanja Modal XXX
CR. Belanja Pembayaran Bunga Utang XXX
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 17
CR. Belanja Subsidi XXX
CR. Belanja Hibah XXX
c. Jurnal Penutup Penerimaan Pembiayaan
Jurnal standar ini dilakukan dengan cara mendebet masing-masing akun
Penerimaan Pembiayaan dan mengkredit masing-masing akun Estimasi
Penerimaan Pembiayaan, serta memasukkan selisihnya pada akun Pembiayaan
Netto. Jurnal dimaksud adalah:
DR. Penerimaan Pembiayaan Dlm Negri Perbankan XXX
DR. Penerimaan Pembiayaan Dlm Negri Non Perbanka XXX
DR. Penerimaan Pembiayaan Pinjaman Luar Negri XXX
DR Pembiayaan Neto XXX
CR Est. Pener Pembiayaan DN Perbankan XXX
CR. Est. Pener Pembiayaan DN Non Perbanka XXX
CR. Est. Penerimaan Pembiayaan PLN XXX
d. Jurnal Penutup Pengeluaran Pembiayaan
Jurnal Standar ini dilakukan dengan cara mendebet akun Appropriasi
Pengeluaran Pembiayaan dan mengkredit akun Pengeluaran Pembiayaan serta
memasukkan selisihnya pada akun Pembiayaan Neto. Jurnal tersebut adalah:
DR. Appropriasi Pengeluaran Pembayaran Cicilan Pokok HLN XXX
DR. Appropriasi Pengeluaran Pembiayaan Dlm Negri Perbankan XXX
DR. Appropriasi Pengeluaran Pembiayaan DN Non Perbankan XXX
CR. Pembiayaan Neto XXX
CR. Pengeluaran Pembayaran Cicilan Pokok HLN XXX
CR. Pengeluaran Pembiayaan DN Perbankan XXX
CR. Pengeluaran Pembiayaan DN Non Perbankan XXX
e. Jurnal Penutup Pembiayaan Neto dan Surplus Defisit serta SILPA
Jurnal Standar dilakukan dengan membalik masing-masing akun surplus/defisit
dan pembiayaan neto kemudian memasukkannya pada akun SILPA. Jurnal
dimaksud adalah:
DR. Pembiayaan Neto XXX
DR. Surplus/Defisit XXX
CR SILPA XXX
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 18
Jurnal standar untuk menutup SILPA adalah:
DR. SILPA XXX
CR SAL XXX
f. Jurnal Penutup transaksi Non Anggaran
Jurnal Standar ini terdiri dari jurnal penutup untuk penerimaan dan pengeluaran
transito, Kiriman Uang serta PFK. Jurnal tersebut adalah:
• Jurnal penutup penerimaan dan pengeluaran transito:
DR. Penerimaan Transito XXX
DR. Kas Di Bendaharawan Pembayar XXX
CR. Pengeluaran Transito XXX
• Jurnal penutup Kiriman Uang:
DR. Penerimaan Kiriman Uang XXX
DR. Kas dalam Transito XXX
CR. Pengeluaran Kiriman Uang XXX
• Jurnal Penutup PFK:
DR. Penerimaan PFK XXX
CR. Hutang PFK XXX
CR. Pengeluaran PFK XXX
B. Jurnal Penutup SAI dan SAU.
Jurnal yang ditutup dalam SAI dan SAU adalah seluruh estimasi pendapatan yang
dialokasikan, seluruh Allotment Belanja, estimasi penerimaan pembiayaan, serta allotment
pengeluaran pembiayaan. Jurnal tersebut adalah:
a. Jurnal penutup Estimasi Pendapatan Yang Dialokasikan
Jurnal ini ditutup dengan cara mendebet masing-masing akun Pendapatan dan
mengkredit Estimasi Pendapatan yang dialokasikan, serta memasukkan selisihnya
pada akun Hutang Kepada KUN. Jurnal dimaksud adalah:
DR. Pendapatan Pajak XXX
DR. Pendapatan PNBP XXX
DR. Hutang Kepada KUN XXX
CR Estimasi Pendapatan Pajak yg dialokasikan XXX
JURNAL STANDAR
Direktorat Informasi dan Akuntansi 19
CR Estimasi Pendapatan PNBP yg dialokasikan XXX
b. Jurnal penutup Allotment Belanja
Jurnal ini ditutup dengan cara mendebet seluruh allotment belanja dan mengkredit
masingmasing akun belanja serta memasukkan selisihnya pada Piutang dari KUN.
Jurnal dimaksud adalah:
DR. Allotment Belanja Pegawai XXX
DR. Allotment Belanja Barang XXX
DR. Allotment Belanja Modal XXX
CR Belanja Pegawai XXX
CR. Belanja Barang XXX
CR. Belanja Modal XXX
CR. Piutang Dari KUN XXX
c. Jurnal penutup Penerimaan Pembiayaan yang Dialokasikan
Jurnal standar ini dilakukan dengan cara mendebet masing-masing akun
Penerimaan Pembiayaan dan mengkredit masing-masing akun Estimasi Penerimaan
Pembiayaan yang dialokasikan, serta memasukkan selisihnya pada akun Hutang
Kepada KUN. Jurnal dimaksud adalah:
DR. Pener Pembiayaan XXX
DR Hutang Kepada KUN XXX
CR Estimasi Penerimaan Pembiayaan yang dialokasikan XXX
f. Jurnal Penutup Pengeluaran Pembiayaan
Jurnal Standar ini dilakukan dengan cara mendebet akun Allotment Pengeluaran
Pembiayaan dan mengkredit akun Pengeluaran Pembiayaan serta memasukkan
selisihnya pada akun Piutang dari KUN. Jurnal tersebut adalah:
DR. Allotment Pengeluaran Pemb Cicilan Pokok HLN XXX
DR. Allotment Pengeluaran Pembiayaan Perbankan XXX
DR Allotment Pembiayaan DN Non Perbankan XXX
CR. Piutang Dari KUN XXX
CR. Pengeluaran Pembayaran Cicilan Pokok HLN XXX
CR. Pengeluaran Pembiayaan DN Perbankan XXX
CR. Pengeluaran Pembiayaan DN Non Perbankan XXX

KEP DIRJEN PERBENDAHARAAN

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERB ENDAHARAAN
NOMOR : PER - 01/PB/2005
TENTANG
PEDOMAN JURNAL STANDAR DAN POSTING RULES
PADA SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH PUSAT
DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat,
perlu dilakukan penjurnalan dan dibuat posting rules terhadap masingmasing
transaksi keuangan;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a,
perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan tentang
Pedoman Jurnal Standar dan Posting Rules pada Sistem Akuntansi
Pemerintah Pusat.
Mengingat : 1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003
Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4287);
2. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4212);
3. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 302/KMK.01/2004 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Departemen Keuangan;
4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13/PMK.06/2005 tentang Bagan
Perkiraan Standar.
M E M U T U S K A N :
Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN TENTANG PEDOMAN
JURNAL STANDAR DAN POSTING RULES.
Pasal 1
1) Dalam pelaksanaan Akuntansi terhadap dokumen sumber anggaran,
penerimaan dan pengeluaran negara perlu dibuat suatu Sistem Akuntansi
Pemerintah Pusat (SAPP).
2) SAPP yang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri dari Sistem Akuntansi
Pusat (SiAP) dan Sistem Akuntansi Instansi (SAI).
3) SAPP sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertujuan untuk mencatat,
mengklasifikasikan, membukukan, dan menghasilkan laporan keuangan.
Pasa l 2
1) Dalam pelaksanaan Sistem Akuntansi Pemerintah perlu dibuat suatu jurnal
standar dan posting rules.
2) Jurnal Standar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri dari jurnal standar
anggaran, jurnal standar saldo awal, jurnal standar realisasi, dan jurnal standar
penutup.
3) Posting rules sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri dari Posting rules
Sistem Akuntansi Kas Umum Negara, Posting rules Sistem Akuntansi Umum
dan Posting rules Sistem Akuntansi Instansi.
Pasal 3
1) Jurnal Standar bertujuan sebagai dasar dilakukannya pencatatan dan
pemerosesan transaksi anggaran, realisasi penerimaan dan pengeluaran
anggaran serta transaksi non anggaran.
2) Posting rules bertujuan sebagai dasar perlakuan suatu transaksi keuangan
untuk menghasilkan laporan keuangan.
Pasal 4
1) Jurnal standar dan Posting rules ini menjadi pedoman dalam pelaksanaan
Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat.
2) Jurnal Standar dan Posting rules dimaksud mengacu kepada lampiran
Peraturan Direktorat Jenderal Perbendaharaan ini.
Pasal 5
Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Direktur
Jenderal Perbendaharaan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik
Indonesia.
Ditetapkan : di Jakarta
pada tanggal : April 2005
DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN
MULIA P. NASUTION
NIP 060046519

Rabu, 21 November 2012



PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1 TAHUN 2004
TENTANG
PERBENDAHARAAN NEGARA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemerintahan negara untuk mewujudkan tujuan bernegara
menimbulkan hak dan kewajiban negara yang perlu dikelola dalam suatu sistem
pengelolaan keuangan negara;
b. bahwa pengelolaan keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perlu dilaksanakan secara terbuka dan
bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, yang diwujudkan dalam
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD);
c. bahwa dalam rangka pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara diperlukan
kaidah-kaidah hukum administrasi keuangan negara yang mengatur perbendaharaan
negara;
d. bahwa Undang-undang Perbendaharaan Indonesia/Indische Comptabiliteitswet (Staatsblad
Tahun 1925 Nomor 448) sebagaimana telah beberapa kali diubah dan ditambah terakhir
dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1968 (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1968 Nomor 53), tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan pengelolaan dan
pertanggungjawaban keuangan negara;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, huruf c,
dan huruf d di atas perlu dibentuk Undang-undang tentang Perbendaharaan Negara;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, Pasal 23, dan Pasal 23C Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286);
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA
BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Pertama
Pengertian
Pasal 1
Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan :
1. Perbendaharaan Negara adalah pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara,
termasuk investasi dan kekayaan yang dipisahkan, yang ditetapkan dalam APBN dan
APBD.
2
2. Kas Negara adalah tempat penyimpanan uang negara yang ditentukan oleh Menteri
Keuangan selaku Bendahara Umum Negara untuk menampung seluruh penerimaan
negara dan membayar seluruh pengeluaran negara.
3. Rekening Kas Umum Negara adalah rekening tempat penyimpanan uang negara yang
ditentukan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara untuk menampung
seluruh penerimaan negara dan membayar seluruh pengeluaran negara pada bank
sentral.
4. Kas Daerah adalah tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh
gubernur/bupati/walikota untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan
membayar seluruh pengeluaran daerah.
5. Rekening Kas Umum Daerah adalah rekening tempat penyimpanan uang daerah yang
ditentukan oleh gubernur/bupati/walikota untuk menampung seluruh penerimaan
daerah dan membayar seluruh pengeluaran daerah pada bank yang ditetapkan.
6. Piutang Negara adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada Pemerintah Pusat
dan/atau hak Pemerintah Pusat yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat
perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
atau akibat lainnya yang sah.
7. Piutang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada Pemerintah Daerah
dan/atau hak Pemerintah Daerah yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat
perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
atau akibat lainnya yang sah.
8. Utang Negara adalah jumlah uang yang wajib dibayar Pemerintah Pusat dan/atau
kewajiban Pemerintah Pusat yang dapat dinilai dengan uang berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, perjanjian, atau berdasarkan sebab lainnya yang sah.
9. Utang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar Pemerintah Daerah dan/atau
kewajiban Pemerintah Daerah yang dapat dinilai dengan uang berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, perjanjian, atau berdasarkan sebab lainnya yang sah.
10. Barang Milik Negara adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN
atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.
11. Barang Milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD
atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.
12. Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran
kementerian negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah.
13. Pengguna Barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang milik
negara/daerah.
14. Bendahara adalah setiap orang atau badan yang diberi tugas untuk dan atas nama
negara/daerah, menerima, menyimpan, dan membayar/menyerahkan uang atau surat
berharga atau barang-barang negara/daerah.
15. Bendahara Umum Negara adalah pejabat yang diberi tugas untuk melaksanakan fungsi
bendahara umum negara.
16. Bendahara Umum Daerah adalah pejabat yang diberi tugas untuk melaksanakan fungsi
bendahara umum daerah.
17. Bendahara Penerimaan adalah orang yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan,
menyetorkan, menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan
negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja
kementerian negara/lembaga/pemerintah daerah.
18. Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan,
membayarkan, menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan
belanja negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan
kerja kementerian negara/lembaga/ pemerintah daerah.
19. Menteri/Pimpinan Lembaga adalah pejabat yang bertanggung jawab atas pengelolaan
keuangan kementerian negara/ lembaga yang bersangkutan.
20. Kementerian Negara/Lembaga adalah kementerian negara/ lembaga pemerintah non
kementerian negara/lembaga negara.
21. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah adalah kepala badan/ dinas/biro keuangan/bagian
keuangan yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak
sebagai Bendahara Umum Daerah.
22. Kerugian Negara/Daerah adalah kekurangan uang, surat berharga, dan barang, yang
nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja
maupun lalai.
23. Badan Layanan Umum adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk
memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa
3
yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan
kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.
24. Bank Sentral adalah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal
23D.
Bagian Kedua
Ruang Lingkup
Pasal 2
Perbendaharaan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 Angka 1, meliputi :
a. pelaksanaan pendapatan dan belanja negara;
b. pelaksanaan pendapatan dan belanja daerah;
c. pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran negara;
d. pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran daerah;
e. pengelolaan kas;
f. pengelolaan piutang dan utang negara/daerah;
g. pengelolaan investasi dan barang milik negara/daerah;
h. penyelenggaraan akuntansi dan sistem informasi manajemen keuangan negara/daerah;
i. penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD;
j. penyelesaian kerugian negara/daerah;
k. pengelolaan Badan Layanan Umum;
l. perumusan standar, kebijakan, serta sistem dan prosedur yang berkaitan dengan
pengelolaan keuangan negara dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD.
Bagian Ketiga
Asas Umum
Pasal 3
1. Undang-undang tentang APBN merupakan dasar bagi Pemerintah Pusat untuk
melakukan penerimaan dan pengeluaran negara.
2. Peraturan Daerah tentang APBD merupakan dasar bagi Pemerintah Daerah untuk
melakukan penerimaan dan pengeluaran daerah.
3. Setiap pejabat dilarang melakukan tindakan yang berakibat pengeluaran atas beban
APBN/APBD jika anggaran untuk membiayai pengeluaran tersebut tidak tersedia atau
tidak cukup tersedia.
4. Semua pengeluaran negara, termasuk subsidi dan bantuan lainnya yang sesuai dengan
program pemerintah pusat, dibiayai0 dengan APBN.
5. Semua pengeluaran daerah, termasuk subsidi dan bantuan lainnya yang sesuai dengan
program pemerintah daerah, dibiayai dengan APBD.
6. Anggaran untuk membiayai pengeluaran yang sifatnya mendesak dan/atau tidak
terduga disediakan dalam bagian anggaran tersendiri yang selanjutnya diatur dalam
peraturan pemerintah.
7. Kelambatan pembayaran atas tagihan yang berkaitan dengan pelaksanaan APBN/APBD
dapat mengakibatkan pengenaan denda dan/atau bunga.
BAB II
PEJABAT PERBENDAHARAAN NEGARA
Bagian Pertama
Pengguna Anggaran
Pasal 4
1. Menteri/pimpinan lembaga adalah Pengguna Anggaran/ Pengguna Barang bagi
kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya.
4
2. Menteri/pimpinan lembaga selaku Pengguna Anggaran/ Pengguna Barang kementerian
negara/lembaga yang dipimpinnya, berwenang :
a. menyusun dokumen pelaksanaan anggaran;
b. menunjuk Kuasa Pengguna Anggaran/Pengguna Barang;
c. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara;
d. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang;
e. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja;
f. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian dan perintah
pembayaran;
g. menggunakan barang milik negara;
h. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik negara;
i. mengawasi pelaksanaan anggaran;
j. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan kementerian negara/lembaga
yang dipimpinnya.
Pasal 5
Gubernur/bupati/walikota selaku Kepala Pemerintahan Daerah :
a. menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBD;
b. menetapkan Kuasa Pengguna Anggaran dan Bendahara Penerimaan dan/atau
Bendahara Pengeluaran;
c. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah;
d. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah;
e. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah;
f. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan
memerintahkan pembayaran.
Pasal 6
1. Kepala satuan kerja perangkat daerah adalah Pengguna Anggaran/Pengguna Barang
bagi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya.
2. Kepala satuan kerja perangkat daerah dalam melaksanakan tugasnya selaku pejabat
Pengguna Anggaran/Pengguna Barang satuan kerja perangkat daerah yang
dipimpinnya berwenang :
a. menyusun dokumen pelaksanaan anggaran;
b. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran
belanja;
c. melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran;
d. melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak;
e. mengelola utang dan piutang;
f. menggunakan barang milik daerah;
g. mengawasi pelaksanaan anggaran;
h. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan satuan kerja perangkat
daerah yang dipimpinnya.
Bagian Kedua
Bendahara Umum Negara/Daerah
Pasal 7
1. Menteri Keuangan adalah Bendahara Umum Negara.
2. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara berwenang :
a. menetapkan kebijakan dan pedoman pelaksanaan anggaran negara;
b. mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran;
c. melakukan pengendalian pelaksanaan anggaran negara;
d. menetapkan sistem penerimaan dan pengeluaran kas negara;
e. menunjuk bank dan/atau lembaga keuangan lainnya dalam rangka
pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran anggaran negara;
f. mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan
5
anggaran negara;
g. menyimpan uang negara;
h. menempatkan uang negara dan mengelola/menatausahakan investasi;
i. melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat Pengguna Anggaran
atas beban rekening kas umum negara;
j. melakukan pinjaman dan memberikan jaminan atas nama pemerintah;
k. memberikan pinjaman atas nama pemerintah;
l. melakukan pengelolaan utang dan piutang negara;
m. mengajukan rancangan peraturan pemerintah tentang standar akuntansi
pemerintahan;
n. melakukan penagihan piutang negara;
o. menetapkan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan negara;
p. menyajikan informasi keuangan negara;
q. menetapkan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang
milik negara;
r. menentukan nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah dalam rangka
pembayaran pajak;
s. menunjuk pejabat Kuasa Bendahara Umum Negara.
Pasal 8
1. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara mengangkat Kuasa Bendahara
Umum Negara untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan
anggaran dalam wilayah kerja yang telah ditetapkan.
2. Tugas kebendaharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan menerima,
menyimpan, membayar atau menyerahkan, menatausahakan, dan
mempertanggungjawab-kan uang dan surat berharga yang berada dalam
pengelolaannya.
3. Kuasa Bendahara Umum Negara melaksanakan penerimaan dan pengeluaran Kas
Negara sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf c.
4. Kuasa Bendahara Umum Negara berkewajiban memerintahkan penagihan piutang
negara kepada pihak ketiga sebagai penerimaan anggaran.
5. Kuasa Bendahara Umum Negara berkewajiban melakukan pembayaran tagihan pihak
ketiga sebagai pengeluaran anggaran.
Pasal 9
1. Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah adalah Bendahara Umum Daerah.
2. Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum Daerah
berwenang :
a. menyiapkan kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD;
b. mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran;
c. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD;
d. memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran
kas daerah;
e. melaksanakan pemungutan pajak daerah;
f. memantau pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran APBD oleh bank
dan/atau lembaga keuangan lainnya yang telah ditunjuk;
g. mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan APBD;
h. menyimpan uang daerah;
i. melaksanakan penempatan uang daerah dan mengelola/menatausahakan
investasi;
j. melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat Pengguna Anggaran
atas beban rekening kas umum daerah;
k. menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian jaminan atas nama
pemerintah daerah;
l. melaksanakan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah;
m. melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah;
n. melakukan penagihan piutang daerah;
o. melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah;
6
p. menyajikan informasi keuangan daerah;
q. melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang
milik daerah.
Bagian Ketiga
Bendahara Penerimaan/Pengeluaran
Pasal 10
1. Menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota mengangkat Bendahara
Penerimaan untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan
anggaran pendapatan pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementerian
negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah.
2. Menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota mengangkat Bendahara
Pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan
anggaran belanja pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementerian
negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah.
3. Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dan ayat (2) adalah Pejabat Fungsional.
4. Jabatan Bendahara Penerimaan/Pengeluaran tidak boleh dirangkap oleh Kuasa
Pengguna Anggaran atau Kuasa Bendahara Umum Negara.
5. Bendahara Penerimaan/Pengeluaran dilarang melakukan, baik secara langsung maupun
tidak langsung, kegiatan perdagangan, pekerjaan pemborongan dan penjualan jasa atau
bertindak sebagai penjamin atas kegiatan/pekerjaan/ penjualan tersebut.
BAB III
PELAKSANAAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA/DAERAH
Bagian Pertama
Tahun Anggaran
Pasal 11
Tahun anggaran meliputi masa satu tahun mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan 31
Desember.
Pasal 12
1. APBN dalam satu tahun anggaran meliputi :
a. hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih;
b. kewajiban pemerintah pusat yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih;
c. penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima
kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun
anggaran berikutnya.
2. Semua penerimaan dan pengeluaran negara dilakukan melalui Rekening Kas Umum
Negara.
Pasal 13
1. APBD dalam satu tahun anggaran meliputi :
a. hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih;
b. kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan
bersih;
c. penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima
kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun
anggaran berikutnya.
2. Semua penerimaan dan pengeluaran daerah dilakukan melalui Rekening Kas Umum
Daerah.
7
Bagian Kedua
Dokumen Pelaksanaan Anggaran
Pasal 14
1. Setelah APBN ditetapkan, Menteri Keuangan memberitahukan kepada semua
menteri/pimpinan lembaga agar menyampaikan dokumen pelaksanaan anggaran untuk
masing-masing kementerian negara/lembaga.
2. Menteri/pimpinan lembaga menyusun dokumen pelaksanaan anggaran untuk
kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya berdasarkan alokasi anggaran yang
ditetapkan oleh Presiden.
3. Di dalam dokumen pelaksanaan anggaran, sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
diuraikan sasaran yang hendak dicapai, fungsi, program dan rincian kegiatan, anggaran
yang disediakan untuk mencapai sasaran tersebut, dan rencana penarikan dana tiap-tiap
satuan kerja, serta pendapatan yang diperkirakan.
4. Pada dokumen pelaksanaan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilampirkan
rencana kerja dan anggaran Badan Layanan Umum dalam lingkungan kementerian
negara yang bersangkutan.
5. Dokumen pelaksanaan anggaran yang telah disahkan oleh Menteri Keuangan
disampaikan kepada menteri/pimpinan lembaga, kuasa bendahara umum negara, dan
Badan Pemeriksa Keuangan.
Pasal 15
1. Setelah APBD ditetapkan, Pejabat Pengelola Keuangan Daerah memberitahukan kepada
semua kepala satuan kerja perangkat daerah agar menyampaikan dokumen pelaksanaan
anggaran untuk masing-masing satuan kerja perangkat daerah.
2. Kepala satuan kerja perangkat daerah menyusun dokumen pelaksanaan anggaran untuk
satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya berdasarkan alokasi anggaran yang
ditetapkan oleh gubernur/bupati/walikota.
3. Di dalam dokumen pelaksanaan anggaran, sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
diuraikan sasaran yang hendak dicapai, fungsi, program dan rincian kegiatan, anggaran
yang disediakan untuk mencapai sasaran tersebut, dan rencana penarikan dana tiap-tiap
satuan kerja serta pendapatan yang diperkirakan.
4. Dokumen pelaksanaan anggaran yang telah disahkan oleh Pejabat Pengelola Keuangan
Daerah disampaikan kepada Kepala satuan kerja perangkat daerah dan Badan Pemeriksa
Keuangan.
Bagian Ketiga
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan
Pasal 16
1. Setiap kementerian negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah yang mempunyai
sumber pendapatan wajib mengintensifkan perolehan pendapatan yang menjadi
wewenang dan tanggung jawabnya.
2. Penerimaan harus disetor seluruhnya ke Kas Negara/Daerah pada waktunya yang
selanjutnya diatur dalam peraturan pemerintah.
3. Penerimaan kementerian negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah tidak boleh
digunakan langsung untuk membiayai pengeluaran.
4. Penerimaan berupa komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan
dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh negara/daerah adalah hak
negara/daerah.
8
Bagian Keempat
Pelaksanaan Anggaran Belanja
Pasal 17
1. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran melaksanakan kegiatan sebagaimana
tersebut dalam dokumen pelaksanaan anggaran yang telah disahkan.
2. Untuk keperluan pelaksanaan kegiatan sebagaimana tersebut dalam dokumen
pelaksanaan anggaran, Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran berwenang
mengadakan ikatan/perjanjian dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah
ditetapkan.
Pasal 18
1. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran berhak untuk menguji, membebankan
pada mata anggaran yang telah disediakan, dan memerintahkan pembayaran tagihantagihan
atas beban APBN/APBD.
2. Untuk melaksanakan ketentuan tersebut pada ayat (1), Pengguna Anggaran/Kuasa
Pengguna Anggaran berwenang :
a. menguji kebenaran material surat-surat bukti mengenai hak pihak penagih;
b. meneliti kebenaran dokumen yang menjadi per-syaratan/kelengkapan
sehubungan dengan ikatan/ perjanjian pengadaan barang/jasa;
c. meneliti tersedianya dana yang bersangkutan;
d. membebankan pengeluaran sesuai dengan mata anggaran pengeluaran yang
bersangkutan;
e. memerintahkan pembayaran atas beban APBN/APBD.
3. Pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan dengan
surat bukti yang menjadi dasar pengeluaran atas beban APBN/APBD bertanggung
jawab atas kebenaran material dan akibat yang timbul dari penggunaan surat bukti
dimaksud.
Pasal 19
1. Pembayaran atas tagihan yang menjadi beban APBN dilakukan oleh Bendahara Umum
Negara/Kuasa Bendahara Umum Negara.
2. Dalam rangka pelaksanaan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Bendahara
Umum Negara/Kuasa Bendahara Umum Negara berkewajiban untuk :
a. meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Pengguna
Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran;
b. menguji kebenaran perhitungan tagihan atas beban APBN yang tercantum dalam
perintah pembayaran;
c. menguji ketersediaan dana yang bersangkutan;
d. memerintahkan pencairan dana sebagai dasar pengeluaran negara;
e. menolak pencairan dana, apabila perintah pembayaran yang diterbitkan oleh
Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran tidak memenuhi persyaratan
yang ditetapkan.
Pasal 20
1. Pembayaran atas tagihan yang menjadi beban APBD dilakukan oleh Bendahara Umum
Daerah.
2. Dalam rangka pelaksanaan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Bendahara
Umum Daerah berkewajiban untuk :
a. meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Pengguna
Anggaran;
b. menguji kebenaran perhitungan tagihan atas beban APBD yang tercantum dalam
perintah pembayaran;
c. menguji ketersediaan dana yang bersangkutan;
9
d. memerintahkan pencairan dana sebagai dasar pengeluaran daerah;
e. menolak pencairan dana, apabila perintah pembayaran yang diterbitkan oleh
Pengguna Anggaran tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan
Pasal 21
1. Pembayaran atas beban APBN/APBD tidak boleh dilakukan sebelum barang dan/atau
jasa diterima.
2. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas kementerian negara/lembaga/satuan kerja
perangkat daerah kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran dapat
diberikan uang persediaan yang dikelola oleh Bendahara Pengeluaran.
3. Bendahara Pengeluaran melaksanakan pembayaran dari uang persediaan yang
dikelolanya setelah :
a. meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Pengguna
Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran;
b. menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah
pembayaran;
c. menguji ketersediaan dana yang bersangkutan.
4. Bendahara Pengeluaran wajib menolak perintah bayar dari Pengguna Anggaran/Kuasa
Pengguna Anggaran apabila persyaratan pada ayat (3) tidak dipenuhi.
5. Bendahara Pengeluaran bertanggung jawab secara pribadi atas pembayaran yang
dilaksanakannya.
6. Pengecualian dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam
peraturan pemerintah.
BAB IV
PENGELOLAAN UANG
Bagian Pertama
Pengelolaan Kas Umum Negara/Daerah
Pasal 22
1. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara berwenang mengatur dan
menyelenggarakan rekening pemerintah.
2. Dalam rangka penyelenggaraan rekening pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) Menteri Keuangan membuka Rekening Kas Umum Negara.
3. Uang negara disimpan dalam Rekening Kas Umum Negara pada bank sentral.
4. Dalam pelaksanaan operasional penerimaan dan pengeluaran negara, Bendahara Umum
Negara dapat membuka Rekening Penerimaan dan Rekening Pengeluaran pada bank
umum.
5. Rekening Penerimaan digunakan untuk menampung penerimaan negara setiap hari.
6. Saldo Rekening Penerimaan setiap akhir hari kerja wajib disetorkan seluruhnya ke
Rekening Kas Umum Negara pada bank sentral.
7. Dalam hal kewajiban penyetoran tersebut secara teknis belum dapat dilakukan setiap
hari, Bendahara Umum Negara mengatur penyetoran secara berkala.
8. Rekening Pengeluaran pada bank umum diisi dengan dana yang bersumber dari
Rekening Kas Umum Negara pada bank sentral.
9. Jumlah dana yang disediakan pada Rekening Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada
ayat (8) disesuaikan dengan rencana pengeluaran untuk membiayai kegiatan
pemerintahan yang telah ditetapkan dalam APBN.
Pasal 23
1. Pemerintah Pusat memperoleh bunga dan/atau jasa giro atas dana yang disimpan pada
bank sentral.
2. Jenis dana, tingkat bunga dan/atau jasa giro sebagaimana dimaksud pada ayat (1), serta
biaya sehubungan dengan pelayanan yang diberikan oleh bank sentral, ditetapkan
berdasarkan kesepakatan Gubernur bank sentral dengan Menteri Keuangan.
10
Pasal 24
1. Pemerintah Pusat/Daerah berhak memperoleh bunga dan/atau jasa giro atas dana yang
disimpan pada bank umum.
2. Bunga dan/atau jasa giro yang diperoleh Pemerintah Pusat/Daerah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada tingkat suku bunga dan/atau jasa giro yang
berlaku.
3. Biaya sehubungan dengan pelayanan yang diberikan oleh bank umum sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada ketentuan yang berlaku pada bank umum yang
bersangkutan.
Pasal 25
1. Bunga dan/atau jasa giro yang diperoleh Pemerintah merupakan Pendapatan
Negara/Daerah.
2. Biaya sehubungan dengan pelayanan yang diberikan oleh bank umum dibebankan pada
Belanja Negara/Daerah.
Pasal 26
1. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara dalam hal tertentu dapat menunjuk
badan lain untuk melaksanakan penerimaan dan/atau pengeluaran negara untuk
mendukung kegiatan operasional kementerian negara/lembaga.
2. Penunjukan badan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam suatu
kontrak kerja.
3. Badan lain yang ditunjuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berkewajiban
menyampaikan laporan secara berkala kepada Bendahara Umum Negara mengenai
pelaksanaan penerimaan dan/atau pengeluaran sesuai dengan tugas dan tanggung
jawabnya.
Pasal 27
1. Dalam rangka penyelenggaraan rekening Pemerintah Daerah, Pejabat Pengelola
Keuangan Daerah membuka Rekening Kas Umum Daerah pada bank yang ditentukan
oleh gubernur/bupati/walikota.
2. Dalam pelaksanaan operasional Penerimaan dan Pengeluaran Daerah, Bendahara Umum
Daerah dapat membuka Rekening Penerimaan dan Rekening Pengeluaran pada bank
yang ditetapkan oleh gubernur/bupati/walikota.
3. Rekening Penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk
menampung Penerimaan Daerah setiap hari.
4. Saldo Rekening Penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setiap akhir hari kerja
wajib disetorkan seluruhnya ke Rekening Kas Umum Daerah.
5. Rekening Pengeluaran pada bank sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diisi dengan
dana yang bersumber dari Rekening Kas Umum Daerah.
6. Jumlah dana yang disediakan pada Rekening Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) disesuaikan dengan rencana pengeluaran untuk membiayai kegiatan
pemerintahan yang telah ditetapkan dalam APBD.
Pasal 28
1. Pokok-pokok mengenai pengelolaan uang negara/daerah diatur dengan peraturan
pemerintah setelah dilakukan konsultasi dengan bank sentral.
2. Pedoman lebih lanjut mengenai pengelolaan uang negara/daerah sesuai dengan
ketentuan yang diatur dalam peraturan pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditetapkan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara.
3. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang berkaitan dengan
pengelolaan uang daerah selanjutnya diatur dengan peraturan daerah.
11
Bagian Kedua
Pelaksanaan Penerimaan Negara/Daerah oleh Kementerian Negara/Lembaga/Satuan Kerja
Perangkat Daerah
Pasal 29
1. Menteri/pimpinan lembaga selaku Pengguna Anggaran dapat membuka rekening untuk
keperluan pelaksanaan penerimaan di lingkungan kementerian negara/lembaga yang
bersangkutan setelah memperoleh persetujuan dari Bendahara Umum Negara.
2. Menteri/pimpinan lembaga mengangkat bendahara untuk menatausahakan penerimaan
negara di lingkungan kementerian negara/lembaga.
3. Dalam rangka pengelolaan kas, Bendahara Umum Negara dapat memerintahkan
pemindahbukuan dan/atau penutupan rekening sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Pasal 30
1. Gubernur/bupati/walikota dapat memberikan ijin pembukaan rekening untuk
keperluan pelaksanaan penerimaan di lingkungan pemerintah daerah sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
2. Gubernur/bupati/walikota mengangkat bendahara untuk menatausahakan penerimaan
satuan kerja perangkat daerah di lingkungan pemerintah daerah yang dipimpinnya.
Bagian Ketiga
Pengelolaan Uang Persediaan untuk Keperluan Kementerian Negara/Lembaga/Satuan Kerja
Perangkat Daerah
Pasal 31
1. Menteri/pimpinan lembaga dapat membuka rekening untuk keperluan pelaksanaan
pengeluaran di lingkungan kementerian negara/lembaga yang bersangkutan setelah
mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara.
2. Menteri/pimpinan lembaga mengangkat bendahara untuk mengelola uang yang harus
dipertanggungjawabkan dalam rangka pelaksanaan pengeluaran kementerian
negara/lembaga.
3. Dalam rangka pengelolaan kas, Bendahara Umum Negara dapat memerintahkan
pemindahbukuan dan/atau penutupan rekening sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Pasal 32
1. Gubernur/bupati/walikota dapat memberikan ijin pembukaan rekening untuk
keperluan pelaksanaan pengeluaran di lingkungan satuan kerja perangkat daerah.
2. Gubernur/bupati/walikota mengangkat bendahara untuk mengelola uang yang harus
dipertanggungjawabkan dalam rangka pelaksanaan pengeluaran satuan kerja perangkat
daerah.
BAB V
PENGELOLAAN PIUTANG DAN UTANG
Bagian Pertama
Pengelolaan Piutang
Pasal 33
1. Pemerintah Pusat dapat memberikan pinjaman atau hibah kepada Pemerintah
Daerah/Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah sesuai dengan yang
tercantum/ditetapkan dalam Undang-undang tentang APBN.
12
2. Pemerintah Pusat dapat memberikan pinjaman atau hibah kepada lembaga asing sesuai
dengan yang tercantum/ditetapkan dalam Undang-undang tentang APBN.
3. Tata cara pemberian pinjaman atau hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2) diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 34
1. Setiap pejabat yang diberi kuasa untuk mengelola pendapatan, belanja, dan kekayaan
negara/daerah wajib mengusahakan agar setiap piutang negara/daerah diselesaikan
seluruhnya dan tepat waktu.
2. Piutang negara/daerah yang tidak dapat diselesaikan seluruhnya dan tepat waktu,
diselesaikan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 35
Piutang negara/daerah jenis tertentu mempunyai hak mendahulu sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 36
1. Penyelesaian piutang negara/daerah yang timbul sebagai akibat hubungan keperdataan
dapat dilakukan melalui perdamaian, kecuali mengenai piutang negara/daerah yang
cara penyelesaiannya diatur tersendiri dalam undang-undang.
2. Penyelesaian piutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menyangkut piutang
negara ditetapkan oleh :
a. Menteri Keuangan, jika bagian piutang negara yang tidak disepakati tidak lebih
dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah);
b. Presiden, jika bagian piutang negara yang tidak disepakati lebih dari
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) sampai dengan
Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah);
c. Presiden, setelah mendapat pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat, jika
bagian piutang negara yang tidak disepakati lebih dari Rp100.000.000.000,00
(seratus miliar rupiah).
3. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menyangkut piutang
Pemerintah Daerah ditetapkan oleh :
a. Gubernur/bupati/walikota, jika bagian piutang daerah yang tidak disepakati
tidak lebih dari Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah);
b. Gubernur/bupati/walikota, setelah mendapat pertimbangan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah, jika bagian piutang daerah yang tidak disepakati
lebih dari Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
4. Perubahan atas jumlah uang, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3),
ditetapkan dengan undang-undang.
Pasal 37
1. Piutang negara/daerah dapat dihapuskan secara mutlak atau bersyarat dari pembukuan,
kecuali mengenai piutang negara/daerah yang cara penyelesaiannya diatur tersendiri
dalam undang-undang.
2. Penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sepanjang menyangkut piutang
Pemerintah Pusat, ditetapkan oleh :
a. Menteri Keuangan untuk jumlah sampai dengan Rp10.000.000.000,00 (sepuluh
miliar rupiah);
b. Presiden untuk jumlah lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah)
sampai dengan Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah);
c. Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat untuk jumlah lebih
dari Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).
3. Penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sepanjang menyangkut piutang
Pemerintah Daerah, ditetapkan oleh :
a. Gubernur/bupati/walikota untuk jumlah sampai dengan Rp5.000.000.000,00
13
(lima miliar rupiah);
b. Gubernur/bupati/walikota dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah untuk jumlah lebih dari Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
4. Perubahan atas jumlah uang, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3)
ditetapkan dengan undang-undang.
5. Tata cara penyelesaian dan penghapusan piutang negara/daerah sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dan ayat (3) serta dalam Pasal 36 ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan
peraturan pemerintah.
Bagian Kedua
Pengelolaan Utang
Pasal 38
1. Menteri Keuangan dapat menunjuk pejabat yang diberi kuasa atas nama Menteri
Keuangan untuk mengadakan utang negara atau menerima hibah yang berasal dari
dalam negeri ataupun dari luar negeri sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan
dalam Undang-undang APBN.
2. Utang/hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diteruspinjamkan kepada
Pemerintah Daerah/BUMN/BUMD.
3. Biaya berkenaan dengan proses pengadaan utang atau hibah sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dibebankan pada Anggaran Belanja Negara.
4. Tata cara pengadaan utang dan/atau penerimaan hibah baik yang berasal dari dalam
negeri maupun dari luar negeri serta penerusan utang atau hibah luar negeri kepada
Pemerintah Daerah/BUMN/BUMD, diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 39
1. Gubernur/bupati/walikota dapat mengadakan utang daerah sesuai dengan ketentuan
yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang APBD.
2. Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah menyiapkan pelaksanaan pinjaman
daerah sesuai dengan keputusan gubernur/bupati/walikota.
3. Biaya berkenaan dengan pinjaman dan hibah daerah dibebankan pada Anggaran Belanja
Daerah.
4. Tata cara pelaksanaan dan penatausahaan utang negara/daerah diatur lebih lanjut
dengan peraturan pemerintah.
Pasal 40
1. Hak tagih mengenai utang atas beban negara/daerah kedaluwarsa setelah 5 (lima) tahun
sejak utang tersebut jatuh tempo, kecuali ditetapkan lain oleh undang-undang.
2. Kedaluwarsaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertunda apabila pihak yang
berpiutang mengajukan tagihan kepada negara/daerah sebelum berakhirnya masa
kedaluwarsa.
3. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk pembayaran
kewajiban bunga dan pokok pinjaman negara/daerah.
BAB VI
PENGELOLAAN INVESTASI
Pasal 41
1. Pemerintah dapat melakukan investasi jangka panjang untuk memperoleh manfaat
ekonomi, sosial dan/atau manfaat lainnya.
2. Investasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk saham, surat
utang, dan investasi langsung.
3. Investasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.
14
4. Penyertaan modal pemerintah pusat pada perusahaan negara/daerah/swasta ditetapkan
dengan peraturan pemerintah.
5. Penyertaan modal pemerintah daerah pada perusahaan negara/daerah/swasta
ditetapkan dengan peraturan daerah.
BAB VII
PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA/DAERAH
Pasal 42
1. Menteri Keuangan mengatur pengelolaan barang milik negara.
2. Menteri/pimpinan lembaga adalah Pengguna Barang bagi kementerian negara/lembaga
yang dipimpinnya.
3. Kepala kantor dalam lingkungan kementerian negara/lembaga adalah Kuasa Pengguna
Barang dalam lingkungan kantor yang bersangkutan.
Pasal 43
1. Gubernur/bupati/walikota menetapkan kebijakan pengelolaan barang milik daerah.
2. Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah melakukan pengawasan atas
penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah sesuai dengan kebijakan yang
ditetapkan oleh gubernur/bupati/walikota.
3. Kepala satuan kerja perangkat daerah adalah Pengguna Barang bagi satuan kerja
perangkat daerah yang dipimpinnya.
Pasal 44
Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang wajib mengelola dan menatausahakan
barang milik negara/daerah yang berada dalam penguasaannya dengan sebaik-baiknya.
Pasal 45
1. Barang milik negara/daerah yang diperlukan bagi penyelenggaraan tugas pemerintahan
negara/daerah tidak dapat dipindahtangankan.
2. Pemindahtanganan barang milik negara/daerah dilakukan dengan cara dijual,
dipertukarkan, dihibahkan, atau disertakan sebagai modal Pemerintah setelah mendapat
persetujuan DPR/DPRD.
Pasal 46
1. Persetujuan DPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (2) dilakukan untuk :
a. pemindahtanganan tanah dan/atau bangunan.
b. tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud pada huruf a ayat ini tidak
termasuk tanah dan/atau bangunan yang :
1. sudah tidak sesuai dengan tata ruang wilayah atau penataan kota;
2. harus dihapuskan karena anggaran untuk bangunan pengganti sudah
disediakan dalam dokumen pelaksanaan anggaran;
3. diperuntukkan bagi pegawai negeri;
4. diperuntukkan bagi kepentingan umum;
5. dikuasai negara berdasarkan keputusan pengadilan yang telah
memiliki kekuatan hukum tetap dan/atau berdasarkan ketentuan
perundang-undangan, yang jika status kepemilikannya dipertahankan
tidak layak secara ekonomis.
c. Pemindahtanganan barang milik negara selain tanah dan/atau bangunan yang
bernilai lebih dari Rp 100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).
2. Pemindahtanganan barang milik negara selain tanah dan/atau bangunan yang bernilai
lebih dari Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) sampai dengan
Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah) dilakukan setelah mendapat persetujuan
Presiden.
15
3. Pemindahtanganan barang milik negara selain tanah dan/atau bangunan yang bernilai
sampai dengan Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dilakukan setelah mendapat
persetujuan Menteri Keuangan.
Pasal 47
1. Persetujuan DPRD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (2) dilakukan untuk :
a. pemindahtanganan tanah dan/atau bangunan.
b. tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud pada huruf a ayat ini tidak
termasuk tanah dan/atau bangunan yang :
1. sudah tidak sesuai dengan tata ruang wilayah atau penataan kota;
2. harus dihapuskan karena anggaran untuk bangunan pengganti sudah
disediakan dalam dokumen pelaksanaan anggaran;
3. diperuntukkan bagi pegawai negeri;
4. diperuntukkan bagi kepentingan umum;
5. dikuasai daerah berdasarkan keputusan pengadilan yang telah memiliki
kekuatan hukum tetap dan/atau berdasarkan ketentuan perundangundangan,
yang jika status kepemilikannya dipertahankan tidak layak secara
ekonomis.
c. Pemindahtanganan barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan yang
bernilai lebih dari Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Pemindahtanganan barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan yang bernilai
sampai dengan Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dilakukan setelah mendapat
persetujuan gubernur/bupati/walikota.
Pasal 48
1. Penjualan barang milik negara/daerah dilakukan dengan cara lelang, kecuali dalam halhal
tertentu.
2. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 49
1. Barang milik negara/daerah yang berupa tanah yang dikuasai Pemerintah Pusat/Daerah
harus disertifikatkan atas nama pemerintah Republik Indonesia/pemerintah daerah yang
bersangkutan.
2. Bangunan milik negara/daerah harus dilengkapi dengan bukti status kepemilikan dan
ditatausahakan secara tertib.
3. Tanah dan bangunan milik negara/daerah yang tidak dimanfaatkan untuk kepentingan
penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi instansi yang bersangkutan, wajib diserahkan
pemanfaatannya kepada Menteri Keuangan/ gubernur/bupati/ walikota untuk
kepentingan penyeleng-garaan tugas pemerintahan negara/daerah.
4. Barang milik negara/daerah dilarang untuk diserahkan kepada pihak lain sebagai
pembayaran atas tagihan kepada Pemerintah Pusat/Daerah.
5. Barang milik negara/daerah dilarang digadaikan atau dijadikan jaminan untuk
mendapatkan pinjaman.
6. Ketentuan mengenai pedoman teknis dan administrasi pengelolaan barang milik
negara/daerah diatur dengan peraturan pemerintah.
BAB VIII
LARANGAN PENYITAAN UANG DAN BARANG MILIK NEGARA/DAERAH DAN/ATAU
YANG DIKUASAI NEGARA/DAERAH
Pasal 50
Pihak mana pun dilarang melakukan penyitaan terhadap :
a. uang atau surat berharga milik negara/daerah baik yang berada pada instansi
Pemerintah maupun pada pihak ketiga;
16
b. uang yang harus disetor oleh pihak ketiga kepada negara/daerah;
c. barang bergerak milik negara/daerah baik yang berada pada instansi Pemerintah
maupun pada pihak ketiga;
d. barang tidak bergerak dan hak kebendaan lainnya milik negara/daerah;
e. barang milik pihak ketiga yang dikuasai oleh negara/daerah yang diperlukan untuk
penyelenggaraan tugas pemerintahan.
BAB IX
PENATAUSAHAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN APBN/APBD
Bagian Pertama
Akuntansi Keuangan
Pasal 51
1. Menteri Keuangan/Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum
Negara/Daerah menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan, aset, utang, dan
ekuitas dana, termasuk transaksi pembiayaan dan perhitungannya.
2. Menteri/pimpinan lembaga/kepala satuan kerja perangkat daerah selaku Pengguna
Anggaran menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan, aset, utang, dan ekuitas
dana, termasuk transaksi pendapatan dan belanja, yang berada dalam tanggung
jawabnya.
3. Akuntansi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) digunakan untuk
menyusun laporan keuangan Pemerintah Pusat/Daerah sesuai dengan standar akuntansi
pemerintahan.
Bagian Kedua
Penatausahaan Dokumen
Pasal 52
Setiap orang dan/atau badan yang menguasai dokumen yang berkaitan dengan perbendaharaan
negara wajib menatausahakan dan memelihara dokumen tersebut dengan baik sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Bagian Ketiga
Pertanggungjawaban Keuangan
Pasal 53
1. Bendahara Penerimaan/Bendahara Pengeluaran bertanggung jawab secara fungsional
atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya kepada Kuasa Bendahara
Umum Negara/Bendahara Umum Daerah.
2. Kuasa Bendahara Umum Negara bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan selaku
Bendahara Umum Negara dari segi hak dan ketaatan kepada peraturan atas pelaksanaan
penerimaan dan pengeluaran yang dilakukannya.
3. Bendahara Umum Negara bertanggung jawab kepada Presiden dari segi hak dan
ketaatan kepada peraturan atas pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran yang
dilakukannya.
4. Bendahara Umum Daerah bertanggung jawab kepada gubernur/bupati/walikota dari
segi hak dan ketaatan kepada peraturan atas pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran
yang dilakukannya.
Pasal 54
1. Pengguna Anggaran bertanggung jawab secara formal dan material kepada
Presiden/gubernur/bupati/walikota atas pelaksanaan kebijakan anggaran yang berada
dalam penguasaannya.
17
2. Kuasa Pengguna Anggaran bertanggung jawab secara formal dan material kepada
Pengguna Anggaran atas pelaksanaan kegiatan yang berada dalam penguasaannya.
Bagian Keempat
Laporan Keuangan
Pasal 55
1. Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal menyusun Laporan Keuangan Pemerintah
Pusat untuk disampaikan kepada Presiden dalam rangka memenuhi
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN.
2. Dalam penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) :
a. Menteri/pimpinan lembaga selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang
menyusun dan menyampaikan laporan keuangan yang meliputi Laporan Realisasi
Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan dilampiri laporan
keuangan Badan Layanan Umum pada kementerian negara/lembaga masingmasing.
b. Laporan Keuangan sebagaimana dimaksud pada huruf a disampaikan kepada
Menteri Keuangan selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran
berakhir.
c. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara menyusun Laporan Arus Kas
Pemerintah Pusat;
d. Menteri Keuangan selaku wakil Pemerintah Pusat dalam kepemilikan kekayaan
negara yang dipisahkan menyusun ikhtisar laporan keuangan perusahaan negara.
3. Laporan Keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan Presiden kepada
Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran
berakhir.
4. Menteri/pimpinan lembaga selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang memberikan
pernyataan bahwa pengelolaan APBN telah diselenggarakan berdasarkan sistem
pengendalian intern yang memadai dan akuntansi keuangan telah diselenggarakan
sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan.
5. Ketentuan lebih lanjut mengenai laporan keuangan dan kinerja instansi pemerintah
diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 56
1. Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selaku Pejabat Pengelola Keuangan
Daerah menyusun laporan keuangan pemerintah daerah untuk disampaikan kepada
gubernur/bupati/walikota dalam rangka memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan
APBD.
2. Dalam penyusunan laporan keuangan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada
ayat (1):
a. Kepala satuan kerja perangkat daerah selaku Pengguna Anggaran/Pengguna
Barang menyusun dan menyampaikan laporan keuangan yang meliputi laporan
realisasi anggaran, neraca, dan catatan atas laporan keuangan.
b. Laporan Keuangan sebagaimana dimaksud pada huruf a disampaikan kepada
kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah selambat-lambatnya 2 (dua) bulan
setelah tahun anggaran berakhir.
c. Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum Daerah
menyusun Laporan Arus Kas Pemerintah Daerah;
d. Gubernur/bupati/walikota selaku wakil pemerintah daerah dalam kepemilikan
kekayaan daerah yang dipisahkan menyusun ikhtisar laporan keuangan
perusahaan daerah.
3. Laporan Keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan
gubernur/bupati/walikota kepada Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 3 (tiga)
bulan setelah tahun anggaran berakhir.
4. Kepala satuan kerja perangkat daerah selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang
memberikan pernyataan bahwa pengelolaan APBD telah diselenggarakan berdasarkan
18
sistem pengendalian intern yang memadai dan akuntansi keuangan telah
diselenggarakan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan.
Bagian Kelima
Komite Standar Akuntansi Pemerintahan
Pasal 57
1. Dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan akuntansi pemerintahan
dibentuk Komite Standar Akuntansi Pemerintahan.
2. Komite Standar Akuntansi Pemerintahan bertugas menyusun standar akuntansi
pemerintahan yang berlaku baik untuk Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah
sesuai dengan kaidah-kaidah akuntansi yang berlaku umum.
3. Pembentukan, susunan, kedudukan, keanggotaan, dan masa kerja Komite Standar
Akuntansi Pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan
keputusan Presiden.
BAB X
PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH
Pasal 58
1. Dalam rangka meningkatkan kinerja, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan
keuangan negara, Presiden selaku Kepala Pemerintahan mengatur dan
menyelenggarakan sistem pengendalian intern di lingkungan pemerintahan secara
menyeluruh.
2. Sistem pengendalian intern sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan
peraturan pemerintah.
BAB XI
PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA/DAERAH
Pasal 59
1. Setiap kerugian negara/daerah yang disebabkan oleh tindakan melanggar hukum atau
kelalaian seseorang harus segera diselesaikan sesuai dengan ketentuan perundangundangan
yang berlaku.
2. Bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain yang karena
perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan
kepadanya secara langsung merugikan keuangan negara, wajib mengganti kerugian
tersebut.
3. Setiap pimpinan kementerian negara/lembaga/kepala satuan kerja perangkat daerah
dapat segera melakukan tuntutan ganti rugi, setelah mengetahui bahwa dalam
kementerian negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah yang bersangkutan terjadi
kerugian akibat perbuatan dari pihak mana pun.
Pasal 60
1. Setiap kerugian negara wajib dilaporkan oleh atasan langsung atau kepala kantor kepada
menteri/pimpinan lembaga dan diberitahukan kepada Badan Pemeriksa Keuangan
selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah kerugian negara itu diketahui.
2. Segera setelah kerugian negara tersebut diketahui, kepada bendahara, pegawai negeri
bukan bendahara, atau pejabat lain yang nyata-nyata melanggar hukum atau melalaikan
kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2) segera dimintakan surat
pernyataan kesanggupan dan/atau pengakuan bahwa kerugian tersebut menjadi
tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian negara dimaksud.
3. Jika surat keterangan tanggung jawab mutlak tidak mungkin diperoleh atau tidak dapat
menjamin pengembalian kerugian negara, menteri/pimpinan lembaga yang
19
bersangkutan segera mengeluarkan surat keputusan pembebanan penggantian kerugian
sementara kepada yang bersangkutan.
Pasal 61
1. Setiap kerugian daerah wajib dilaporkan oleh atasan langsung atau kepala satuan kerja
perangkat daerah kepada gubernur/bupati/walikota dan diberitahukan kepada Badan
Pemeriksa Keuangan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah kerugian daerah itu
diketahui.
2. Segera setelah kerugian daerah tersebut diketahui, kepada bendahara, pegawai negeri
bukan bendahara, atau pejabat lain yang nyata-nyata melanggar hukum atau melalaikan
kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2) dapat segera dimintakan
surat pernyataan kesanggupan dan/atau pengakuan bahwa kerugian tersebut menjadi
tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian daerah dimaksud.
3. Jika surat keterangan tanggung jawab mutlak tidak mungkin diperoleh atau tidak dapat
menjamin pengembalian kerugian daerah, gubernur/bupati/walikota yang
bersangkutan segera mengeluarkan surat keputusan pembebanan penggantian kerugian
sementara kepada yang bersangkutan.
Pasal 62
1. Pengenaan ganti kerugian negara/daerah terhadap bendahara ditetapkan oleh Badan
Pemeriksa Keuangan.
2. Apabila dalam pemeriksaan kerugian negara/daerah sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) ditemukan unsur pidana, Badan Pemeriksa Keuangan menindaklanjutinya sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Ketentuan lebih lanjut tentang pengenaan ganti kerugian negara terhadap bendahara
diatur dalam undang-undang mengenai pemeriksaan pengelolaan dan tanggungjawab
keuangan negara.
Pasal 63
1. Pengenaan ganti kerugian negara/daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara
ditetapkan oleh menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota.
2. Tata cara tuntutan ganti kerugian negara/daerah diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 64
1. Bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, dan pejabat lain yang telah ditetapkan
untuk mengganti kerugian negara/daerah dapat dikenai sanksi administratif dan/atau
sanksi pidana.
2. Putusan pidana tidak membebaskan dari tuntutan ganti rugi.
Pasal 65
Kewajiban bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain untuk membayar ganti
rugi, menjadi kedaluwarsa jika dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diketahuinya kerugian tersebut
atau dalam waktu 8 (delapan) tahun sejak terjadinya kerugian tidak dilakukan penuntutan ganti
rugi terhadap yang bersangkutan.
Pasal 66
1. Dalam hal bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain yang dikenai
tuntutan ganti kerugian negara/daerah berada dalam pengampuan, melarikan diri, atau
meninggal dunia, penuntutan dan penagihan terhadapnya beralih kepada
pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris, terbatas pada kekayaan yang dikelola
atau diperolehnya, yang berasal dari bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau
pejabat lain yang bersangkutan.
20
2. Tanggung jawab pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris untuk membayar ganti
kerugian negara/daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi hapus apabila
dalam waktu 3 (tiga) tahun sejak keputusan pengadilan yang menetapkan pengampuan
kepada bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain yang
bersangkutan, atau sejak bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain
yang bersangkutan diketahui melarikan diri atau meninggal dunia, pengampu/yang
memperoleh hak/ahli waris tidak diberi tahu oleh pejabat yang berwenang mengenai
adanya kerugian negara/daerah.
Pasal 67
1. Ketentuan penyelesaian kerugian negara/daerah sebagaimana diatur dalam Undangundang
ini berlaku pula untuk uang dan/atau barang bukan milik negara/daerah, yang
berada dalam penguasaan bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat
lain yang digunakan dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan.
2. Ketentuan penyelesaian kerugian negara/daerah dalam Undang-undang ini berlaku
pula untuk pengelola perusahaan negara/daerah dan badan-badan lain yang
menyelenggarakan pengelolaan keuangan negara, sepanjang tidak diatur dalam undangundang
tersendiri.
BAB XII
PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM
Pasal 68
1. Badan Layanan Umum dibentuk untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat
dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
2. Kekayaan Badan Layanan Umum merupakan kekayaan negara/daerah yang tidak
dipisahkan serta dikelola dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk menyelenggarakan
kegiatan Badan Layanan Umum yang bersangkutan.
3. Pembinaan keuangan Badan Layanan Umum pemerintah pusat dilakukan oleh Menteri
Keuangan dan pembinaan teknis dilakukan oleh menteri yang bertanggung jawab atas
bidang pemerintahan yang bersangkutan.
4. Pembinaan keuangan Badan Layanan Umum pemerintah daerah dilakukan oleh pejabat
pengelola keuangan daerah dan pembinaan teknis dilakukan oleh kepala satuan kerja
perangkat daerah yang bertanggung jawab atas bidang pemerintahan yang
bersangkutan.
Pasal 69
1. Setiap Badan Layanan Umum wajib menyusun rencana kerja dan anggaran tahunan.
2. Rencana kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan kinerja Badan Layanan Umum
disusun dan disajikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rencana kerja dan
anggaran serta laporan keuangan dan kinerja Kementerian
Negara/Lembaga/pemerintah daerah.
3. Pendapatan dan belanja Badan Layanan Umum dalam rencana kerja dan anggaran
tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dikonsolidasikan dalam
rencana kerja dan anggaran Kementerian Negara/Lembaga/pemerintah daerah yang
bersangkutan.
4. Pendapatan yang diperoleh Badan Layanan Umum sehubungan dengan jasa layanan
yang diberikan merupakan Pendapatan Negara/Daerah.
5. Badan Layanan Umum dapat memperoleh hibah atau sumbangan dari masyarakat atau
badan lain.
6. Pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dapat digunakan
langsung untuk membiayai belanja Badan Layanan Umum yang bersangkutan.
7. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum diatur
dalam peraturan pemerintah.
21
BAB XIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 70
1. Jabatan fungsional bendahara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dibentuk selambatlambatnya
1 (satu) tahun sejak Undang-undang ini diundangkan.
2. Ketentuan mengenai pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis
akrual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dan Pasal 13 Undang-undang ini
dilaksanakan selambat-lambatnya pada tahun anggaran 2008 dan selama pengakuan dan
pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual belum dilaksanakan, digunakan
pengakuan dan pengukuran berbasis kas.
3. Penyimpanan uang negara dalam Rekening Kas Umum Negara pada Bank Sentral
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dilaksanakan secara bertahap, sehingga
terlaksana secara penuh selambat-lambatnya pada tahun 2006.
4. Penyimpanan uang daerah dalam Rekening Kas Umum Daerah pada bank yang telah
ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 dilaksanakan secara bertahap,
sehingga terlaksana secara penuh selambat-lambatnya pada tahun 2006.
Pasal 71
1. Pemberian bunga dan/atau jasa giro sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1)
mulai dilaksanakan pada saat penggantian Sertifikat Bank Indonesia dengan Surat Utang
Negara sebagai instrumen moneter.
2. Penggantian Sertifikat Bank Indonesia dengan Surat Utang Negara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan mulai tahun 2005.
3. Selama Surat Utang Negara belum sepenuhnya menggantikan Sertifikat Bank Indonesia
sebagai instrumen moneter, tingkat bunga yang diberikan adalah sebesar tingkat bunga
Surat Utang Negara yang berasal dari penyelesaian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia.
BAB XIV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 72
Pada saat berlakunya Undang-undang ini, Undang-undang Perbendaharaan Indonesia/Indische
Comptabiliteitswet (ICW), Staatsblad Tahun 1925 Nomor 448 sebagaimana telah beberapa kali
diubah, terakhir dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1968 (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1968 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2860) dinyatakan tidak
berlaku.
Pasal 73
Ketentuan pelaksanaan sebagai tindak lanjut Undang-undang ini sudah selesai selambatlambatnya
1 (satu) tahun sejak Undang-undang ini diundangkan.
Pasal 74
Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
22
Disahkan di Jakarta
pada tanggal 14 Januari 2004
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
MEGAWATI SOEKARNOPUTRI
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 14 Januari 2004
SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
BAMBANG KESOWO
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 5
Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi Sekretaris Kabinet
Bidang Hukum dan
Perundang-undangan,
Lambock V. Nahattands
23
PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1 TAHUN 2004
TENTANG
PERBENDAHARAAN NEGARA
I. UMUM
1. Dasar Pemikiran
Penyelenggaraan pemerintahan negara untuk mewujudkan tujuan bernegara menimbulkan hak dan
kewajiban negara yang perlu dikelola dalam suatu sistem pengelolaan keuangan negara. Pengelolaan
keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 perlu dilaksanakan secara profesional, terbuka, dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat, yang diwujudkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Sebagai landasan hukum pengelolaan keuangan negara tersebut, pada tanggal 5 April 2003 telah
diundangkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Undang-undang Nomor 17
Tahun 2003 ini menjabarkan lebih lanjut aturan-aturan pokok yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ke dalam asas-asas umum pengelolaan keuangan negara.
Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 29 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,
dalam rangka pengelolaan dan pertanggungjawaban Keuangan Negara yang ditetapkan dalam APBN dan
APBD, perlu ditetapkan kaidah-kaidah hukum administrasi keuangan negara.
Sampai dengan saat ini, kaidah-kaidah tersebut masih didasarkan pada ketentuan dalam Undangundang
Perbendaharaan Indonesia/Indische Comptabiliteitswet (ICW) Staatsblad Tahun 1925 Nomor 448
sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1968 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1968 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2860) Undangundang
Perbendaharaan Indonesia tersebut tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan pengelolaan keuangan
negara yang sesuai dengan tuntutan perkembangan demokrasi, ekonomi, dan teknologi. Oleh karena itu,
Undang-undang tersebut perlu diganti dengan undang-undang baru yang mengatur kembali ketentuan di
bidang perbendaharaan negara, sesuai dengan tuntutan perkembangan demokrasi, ekonomi, dan teknologi
modern.
2. Pengertian, Ruang Lingkup, dan Asas Umum Perbendaharaan Negara
Undang-undang tentang Perbendaharaan Negara ini dimaksudkan untuk memberikan landasan
hukum di bidang administrasi keuangan negara. Dalam Undang-undang Perbendaharaan Negara ini
ditetapkan bahwa Perbendaharaan Negara adalah pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara,
termasuk investasi dan kekayaan yang dipisahkan, yang ditetapkan dalam APBN dan APBD.
Sesuai dengan pengertian tersebut, dalam Undang-undang Perbendaharaan Negara ini diatur ruang
lingkup dan asas umum perbendaharaan negara, kewenangan pejabat perbendaharaan negara, pelaksanaan
pendapatan dan belanja negara/daerah, pengelolaan uang negara/daerah, pengelolaan piutang dan utang
negara/daerah, pengelolaan investasi dan barang milik negara/daerah, penatausahaan dan
pertanggungjawaban APBN/APBD, pengendalian intern pemerintah, penyelesaian kerugian
negara/daerah, serta pengelolaan keuangan badan layanan umum.
Sesuai dengan kaidah-kaidah yang baik dalam pengelolaan keuangan negara, Undang-undang
Perbendaharaan Negara ini menganut asas kesatuan, asas universalitas, asas tahunan, dan asas spesialitas.
Asas kesatuan menghendaki agar semua Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah disajikan dalam satu
dokumen anggaran. Asas universalitas mengharuskan agar setiap transaksi keuangan ditampilkan secara
utuh dalam dokumen anggaran. Asas tahunan membatasi masa berlakunya anggaran untuk suatu tahun
tertentu. Asas spesialitas mewajibkan agar kredit anggaran yang disediakan terinci secara jelas
peruntukannya. Demikian pula Undang-undang Perbendaharaan Negara ini memuat ketentuan yang
mendorong profesionalitas, serta menjamin keterbukaan dan akuntabilitas dalam pelaksanaan anggaran.
24
Ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Perbendaharaan Negara ini dimaksudkan pula untuk
memperkokoh landasan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah. Dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi dan otonomi daerah, kepada daerah telah diberikan kewenangan yang luas, demikian pula
dana yang diperlukan untuk menyelenggarakan kewenangan itu. Agar kewenangan dan dana tersebut
dapat digunakan dengan sebaik-baiknya untuk penyelenggaraan tugas pemerintahan di daerah, diperlukan
kaidah-kaidah sebagai rambu-rambu dalam pengelolaan keuangan daerah. Oleh karena itu Undang-undang
Perbendaharaan Negara ini selain menjadi landasan hukum dalam pelaksanaan reformasi pengelolaan
Keuangan Negara pada tingkat pemerintahan pusat, berfungsi pula untuk memperkokoh landasan
pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3. Pejabat Perbendaharaan Negara
Sejalan dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara Menteri Keuangan sebagai pembantu Presiden dalam bidang keuangan pada hakikatnya adalah
Chief Financial Officer (CFO) Pemerintah Republik Indonesia, sementara setiap menteri/pimpinan lembaga
pada hakikatnya adalah Chief Operational Officer (COO) untuk suatu bidang tertentu pemerintahan.
Sesuai dengan prinsip tersebut Kementerian Keuangan berwenang dan bertanggung jawab atas
pengelolaan aset dan kewajiban negara secara nasional, sementara kementerian negara/lembaga berwenang
dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan pemerintahan sesuai dengan tugas dan fungsi masingmasing.
Konsekuensi pembagian tugas antara Menteri Keuangan dan para menteri lainnya tercermin dalam
pelaksanaan anggaran. Untuk meningkatkan akuntabilitas dan menjamin terselenggaranya saling-uji (check
and balance) dalam proses pelaksanaan anggaran perlu dilakukan pemisahan secara tegas antara pemegang
kewenangan administratif dengan pemegang kewenangan kebendaharaan. Penyelenggaraan kewenangan
administratif diserahkan kepada kementerian negara/lembaga, sementara penyeleng-garaan kewenangan
kebendaharaan diserahkan kepada Kementerian Keuangan. Kewenangan administratif tersebut meliputi
melakukan perikatan atau tindakan-tindakan lainnya yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau
pengeluaran negara, melakukan pengujian dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada kementerian
negara/lembaga sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut, serta memerintahkan pembayaran atau
menagih penerimaan yang timbul sebagai akibat pelaksanaan anggaran.
Di lain pihak, Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara dan pejabat lainnya yang ditunjuk
sebagai Kuasa Bendahara Umum Negara bukanlah sekedar kasir yang hanya berwenang melaksanakan
penerimaan dan pengeluaran negara tanpa berhak menilai kebenaran penerimaan dan pengeluaran tersebut.
Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara adalah pengelola keuangan dalam arti seutuhnya, yaitu
berfungsi sekaligus sebagai kasir, pengawas keuangan, dan manajer keuangan.
Fungsi pengawasan keuangan di sini terbatas pada aspek rechmatigheid dan wetmatigheid dan hanya
dilakukan pada saat terjadinya penerimaan atau pengeluaran, sehingga berbeda dengan fungsi pre-audit
yang dilakukan oleh kementerian teknis atau post-audit yang dilakukan oleh aparat pengawasan fungsional.
Dengan demikian, dapat dijalankan salah satu prinsip pengendalian intern yang sangat penting dalam
proses pelaksanaan anggaran, yaitu adanya pemisahan yang tegas antara pemegang kewenangan
administratif (ordonnateur) dan pemegang fungsi pembayaran (comptable). Penerapan pola pemisahan
kewenangan tersebut, yang merupakan salah satu kaidah yang baik dalam pengelolaan keuangan negara,
telah mengalami ”deformasi” sehingga menjadi kurang efektif untuk mencegah dan/atau meminimalkan
terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran negara. Oleh karena itu,
penerapan pola pemisahan tersebut harus dilakukan secara konsisten.
4. Penerapan kaidah pengelolaan keuangan yang sehat di lingkungan pemerintahan
Sejalan dengan perkembangan kebutuhan pengelolaan keuangan negara, dirasakan pula semakin
pentingnya fungsi perbendaharaan dalam rangka pengelolaan sumber daya keuangan pemerintah yang
terbatas secara efisien. Fungsi perbendaharaan tersebut meliputi, terutama, perencanaan kas yang baik,
pencegahan agar jangan sampai terjadi kebocoran dan penyimpangan, pencarian sumber pembiayaan yang
paling murah dan pemanfaatan dana yang menganggur (idle cash) untuk meningkatkan nilai tambah
sumber daya keuangan.
25
Upaya untuk menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan yang selama ini lebih banyak
dilaksanakan di dunia usaha dalam pengelolaan keuangan pemerintah, tidaklah dimaksudkan untuk
menyamakan pengelolaan keuangan sektor pemerintah dengan pengelolaan keuangan sektor swasta. Pada
hakikatnya, negara adalah suatu lembaga politik.
Dalam kedudukannya yang demikian, negara tunduk pada tatanan hukum publik. Melalui kegiatan
berbagai lembaga pemerintah, negara berusaha memberikan jaminan kesejahteraan kepada rakyat (welfare
state).
Namun, pengelolaan keuangan sektor publik yang dilakukan selama ini dengan menggunakan
pendekatan superioritas negara telah membuat aparatur pemerintah yang bergerak dalam kegiatan
pengelolaan keuangan sektor publik tidak lagi dianggap berada dalam kelompok profesi manajemen oleh
para profesional. Oleh karena itu, perlu dilakukan pelurusan kembali pengelolaan keuangan pemerintah
dengan menerapkan prinsip-prinsip pemerintahan yang baik (good governance) yang sesuai dengan
lingkungan pemerintahan.
Dalam Undang-undang Perbendaharaan Negara ini juga diatur prinsip-prinsip yang berkaitan dengan
pelaksanaan fungsi-fungsi pengelolaan kas, perencanaan penerimaan dan pengeluaran, pengelolaan utang
piutang dan investasi serta barang milik negara/daerah yang selama ini belum mendapat perhatian yang
memadai.
Dalam rangka pengelolaan uang negara/daerah, dalam Undang-undang Perbendaharaan Negara ini
ditegaskan kewenangan Menteri Keuangan untuk mengatur dan menyelenggarakan rekening pemerintah,
menyimpan uang negara dalam rekening kas umum negara pada bank sentral, serta ketentuan yang
mengharuskan dilakukannya optimalisasi pemanfaatan dana pemerintah. Untuk meningkatkan
transparansi dan akuntabilitas pengelolaan piutang negara/daerah, diatur kewenangan penyelesaian
piutang negara dan daerah. Sementara itu, dalam rangka pelaksanaan pembiayaan ditetapkan pejabat yang
diberi kuasa untuk mengadakan utang negara/daerah. Demikian pula, dalam rangka meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pengelolaan investasi dan barang milik negara/daerah dalam Undang-undang
Perbendaharaan Negara ini diatur pula ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan investasi serta
kewenangan mengelola dan menggunakan barang milik negara/daerah.
5. Penatausahaan dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran
Untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan negara, laporan
pertanggungjawaban keuangan pemerintah perlu disampaikan secara tepat waktu dan disusun mengikuti
standar akuntansi pemerintahan. Sehubungan dengan itu, perlu ditetapkan ketentuan yang mengatur
mengenai hal-hal tersebut agar:
o Laporan keuangan pemerintah dihasilkan melalui proses akuntansi;
o Laporan keuangan pemerintah disajikan sesuai dengan standar akuntansi keuangan pemerintahan,
yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, dan Laporan Arus Kas disertai dengan
catatan atas laporan keuangan;
o Laporan keuangan disajikan sebagai wujud pertanggungjawaban setiap entitas pelaporan yang
meliputi laporan keuangan pemerintah pusat, laporan keuangan kementerian negara/lembaga, dan
laporan keuangan pemerintah daerah;
o Laporan keuangan pemerintah pusat/daerah disampaikan kepada Dewan Perwakilan
Rakyat/Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah tahun
anggaran yang bersangkutan berakhir;
o Laporan keuangan pemerintah diaudit oleh lembaga pemeriksa ekstern yang independen dan
profesional sebelum disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat;
o Laporan keuangan pemerintah dapat menghasilkan statistik keuangan yang mengacu kepada manual
Statistik Keuangan Pemerintah (Government Finance Statistics/GFS) sehingga dapat memenuhi
kebutuhan analisis kebijakan dan kondisi fiskal, pengelolaan dan analisis perbandingan antarnegara
(cross country studies), kegiatan pemerintahan, dan penyajian statistik keuangan pemerintah.
Pada saat ini laporan keuangan pemerintah dirasakan masih kurang transparan dan akuntabel karena
belum sepenuhnya disusun mengikuti standar akuntansi pemerintahan yang sejalan dengan standar
akuntansi sektor publik yang diterima secara internasional. Standar akuntansi pemerintahan tersebut sesuai
dengan ketentuan Pasal 32 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menjadi acuan
26
bagi Pemerintah Pusat dan seluruh Pemerintah Daerah di dalam menyusun dan menyajikan Laporan
Keuangan.
Standar akuntansi pemerintahan ditetapkan dalam suatu peraturan pemerintah dan disusun oleh suatu
Komite Standar Akuntansi Pemerintahan yang independen yang terdiri dari para profesional. Agar komite
dimaksud terjamin independensinya, komite harus dibentuk dengan suatu keputusan Presiden dan harus
bekerja berdasarkan suatu due process. Selain itu, usul standar yang disusun oleh komite perlu mendapat
pertimbangan dari Badan Pemeriksa Keuangan. Bahan pertimbangan dari Badan Pemeriksa Keuangan
digunakan sebagai dasar untuk penyempurnaan. Hasil penyempurnaan tersebut diberitahukan kepada
Badan Pemeriksa Keuangan, dan selanjutnya usul standar yang telah disempurnakan tersebut diajukan oleh
Menteri Keuangan untuk ditetapkan dalam peraturan pemerintah.
Agar informasi yang disampaikan dalam laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi prinsip
transparansi dan akuntabilitas, perlu diselenggarakan Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) yang
terdiri dari Sistem Akuntansi Pusat (SAP) yang dilaksanakan oleh Kementerian Keuangan dan Sistem
Akuntansi Instansi (SAI) yang dilaksanakan oleh kementerian negara/lembaga.
Selain itu, perlu pula diatur agar laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah dapat
disampaikan tepat waktu kepada DPR/DPRD. Mengingat bahwa laporan keuangan pemerintah terlebih
dahulu harus diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebelum disampaikan kepada DPR/DPRD,
BPK memegang peran yang sangat penting dalam upaya percepatan penyampaian laporan keuangan
pemerintah tersebut kepada DPR/DPRD. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Pasal 30 dan Pasal 31
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang menetapkan bahwa audit atas
Laporan Keuangan Pemerintah harus diselesaikan selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah Laporan
Keuangan tersebut diterima oleh BPK dari Pemerintah. Selama ini, menurut Pasal 70 ICW, BPK diberikan
batas waktu 4 (empat) bulan untuk menyelesaikan tugas tersebut.
6. Penyelesaian Kerugian Negara
Untuk menghindari terjadinya kerugian keuangan negara/daerah akibat tindakan melanggar hukum
atau kelalaian seseorang, dalam Undang-undang Perbendaharaan Negara ini diatur ketentuan mengenai
penyelesaian kerugian negara/daerah. Oleh karena itu, dalam Undang-undang Perbendaharaan Negara ini
ditegaskan bahwa setiap kerugian negara/daerah yang disebabkan oleh tindakan melanggar hukum atau
kelalaian seseorang harus diganti oleh pihak yang bersalah. Dengan penyelesaian kerugian tersebut
negara/daerah dapat dipulihkan dari kerugian yang telah terjadi.
Sehubungan dengan itu, setiap pimpinan kementerian negara/ lembaga/kepala satuan kerja perangkat
daerah wajib segera melakukan tuntutan ganti rugi setelah mengetahui bahwa dalam kementerian
negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah yang bersangkutan terjadi kerugian. Pengenaan ganti
kerugian negara/daerah terhadap bendahara ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan, sedangkan
pengenaan ganti kerugian negara/daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara ditetapkan oleh
menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota.
Bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, dan pejabat lain yang telah ditetapkan untuk mengganti
kerugian negara/daerah dapat dikenai sanksi administratif dan/atau sanksi pidana apabila terbukti
melakukan pelanggaran administratif dan/atau pidana.
7. Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum
Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dapat dibentuk Badan Layanan Umum
yang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang
diperlukan dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Kekayaan
Badan Layanan Umum merupakan kekayaan negara yang tidak dipisahkan serta dikelola dan dimanfaatkan
sepenuhnya untuk menyelenggarakan kegiatan Badan Layanan Umum yang bersangkutan. Berkenaan
dengan itu, rencana kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan kinerja Badan Layanan Umum disusun
dan disajikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rencana kerja dan anggaran serta laporan
keuangan kementerian negara/lembaga/pemerintah daerah.
Pembinaan keuangan Badan Layanan Umum dilakukan oleh Menteri Keuangan, sedangkan pembinaan
teknis dilakukan oleh menteri yang bertanggung jawab atas bidang pemerintahan yang bersangkutan.
27
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas
Pasal 2
Cukup jelas
Pasal 3
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Program Pemerintah Pusat dimaksud diusulkan di dalam Rancangan Undang-undang tentang APBN serta
disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan negara dan kemampuan dalam menghimpun
pendapatan negara dengan berpedoman kepada rencana kerja Pemerintah dalam rangka mewujudkan tercapainya
tujuan bernegara.
Ayat (5)
Program Pemerintah Daerah dimaksud diusulkan di dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD serta
disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan daerah dan kemampuan dalam menghimpun
pendapatan daerah dengan berpedoman kepada rencana kerja Pemerintah dalam rangka mewujudkan tercapainya
tujuan bernegara.
Ayat (6)
Cukup jelas
Ayat (7)
Denda dan/atau bunga dimaksud dapat dikenakan kepada kedua belah pihak.
Pasal 4
Cukup jelas
Pasal 5
Gubernur/bupati/walikota menetapkan Kuasa Pengguna Anggaran, Bendahara Penerimaan dan/atau
Bendahara Pengeluaran berdasarkan usulan Pengguna Anggaran yang bersangkutan.
Pasal 6
Cukup jelas
Pasal 7
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas
Huruf e
Cukup jelas
28
Huruf f
Cukup jelas
Huruf g
Cukup jelas
Huruf h
Dalam rangka pengelolaan kas, investasi yang dimaksud adalah pembelian Surat Utang Negara.
Huruf i
Cukup jelas
Huruf j
Cukup jelas
Huruf k
Cukup jelas
Huruf l
Cukup jelas
Huruf m
Cukup jelas
Huruf n
Cukup jelas
Huruf o
Cukup jelas
Huruf p
Cukup jelas
Huruf q
Cukup jelas
Huruf r
Cukup jelas
Huruf s
Cukup jelas
Pasal 8
Cukup jelas
Pasal 9
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas
Huruf e
Cukup jelas
Huruf f
Cukup jelas
Huruf g
Cukup jelas
Huruf h
Cukup jelas
Huruf i
Dalam rangka pengelolaan kas, investasi yang dimaksud adalah pembelian Surat Utang Negara.
Huruf j
Cukup jelas
Huruf k
Cukup jelas
Huruf l
Cukup jelas
Huruf m
Cukup jelas
29
Huruf n
Cukup jelas
Huruf o
Cukup jelas
Huruf p
Cukup jelas
Huruf q
Cukup jelas
Pasal 10
Ayat (1), ayat (2), dan ayat (3)
Tugas kebendaharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) meliputi kegiatan menerima,
menyimpan, menyetor/membayar/ menyerahkan, menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan
penerimaan/pengeluaran uang dan surat berharga yang berada dalam pengelolaannya.
Persyaratan pengangkatan dan pembinaan karier bendahara diatur oleh Bendahara Umum Negara selaku
Pembina Nasional Jabatan Fungsional Bendahara.
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Pasal 11
Cukup jelas
Pasal 12
Cukup jelas
Pasal 13
Cukup jelas
Pasal 14
Cukup jelas
Pasal 15
Cukup jelas
Pasal 16
Cukup jelas
Pasal 17
Cukup jelas
Pasal 18
Cukup jelas
Pasal 19
Cukup jelas
Pasal 20
Cukup jelas
Pasal 21
Cukup jelas
30
Pasal 22
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Uang negara dimaksud pada ayat ini adalah uang milik negara yang meliputi rupiah dan valuta asing.
Ayat (4)
Dalam hal tertentu, Bendahara Umum Negara dapat membuka rekening pada lembaga keuangan lainnya.
Pembukaan rekening pada bank umum sebagaimana dimaksud pada ayat ini dilakukan dengan
mempertimbangkan asas kesatuan kas dan asas kesatuan perbendaharaan, serta optimalisasi pengelolaan kas.
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
Ayat (7)
Cukup jelas
Ayat (8)
Cukup jelas
Ayat (9)
Cukup jelas
Pasal 23
Cukup jelas
Pasal 24
Cukup jelas
Pasal 25
Cukup jelas
Pasal 26
Ayat (1)
Hal tertentu yang dimaksud pada ayat ini adalah keadaan belum tersedianya layanan perbankan di satu tempat
yang menjamin kelancaran pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran negara.
Badan lain yang dimaksud pada ayat ini adalah badan hukum di luar lembaga keuangan yang memiliki
kompetensi dan reputasi yang baik untuk melaksanakan fungsi penerimaan dan pengeluaran negara.
Kompetensi dimaksud meliputi keahlian, permodalan, jaringan, dan sarana penunjang layanan yang diperlukan.
Reputasi dinilai berdasarkan perkembangan kinerja badan hukum yang bersangkutan sekurang-kurangnya 3
(tiga) tahun terakhir.
Kegiatan operasional dimaksud terutama berkaitan dengan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi
kementerian negara/ lembaga.
Ayat (2)
Penunjukan badan lain tersebut dilakukan secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien,
ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan serta
mengutamakan badan hukum di luar lembaga keuangan yang sebagian besar atau seluruh sahamnya dimiliki oleh
negara.
31
Ayat (3)
Badan lain dimaksud berkewajiban menyampaikan laporan bulanan atas pelaksanaan penerimaan dan/atau
pengeluaran yang dilakukannya. Laporan dimaksud disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi
pemerintahan.
Pasal 27
Cukup jelas
Pasal 28
Cukup jelas
Pasal 29
Ayat (1)
Pembukaan rekening dapat dilakukan oleh Kuasa Pengguna Anggaran/pejabat lain yang ditunjuk.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 30
Ayat (1)
Ketentuan perundang-undangan yang berlaku sebagaimana dimaksud pada ayat ini adalah peraturan
pemerintah yang mengatur pengelolaan uang negara/daerah.
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 31
Ayat (1)
Untuk kelancaran pelaksanaan tugas kementerian negara/lembaga, kantor/satuan kerja di lingkungan
kementerian negara/lembaga dapat diberi persediaan uang kas untuk keperluan pembayaran yang tidak dapat
dilakukan langsung oleh Kuasa Bendahara Umum Negara kepada pihak yang menyediakan barang dan/atau jasa.
Sehubungan dengan itu, diperlukan pembukaan rekening untuk menyimpan uang persediaan tersebut sebelum
dibayarkan kepada yang berhak. Tata cara pembukaan rekening dimaksud, serta penggunaan dan mekanisme
pertanggungjawaban uang persediaan tersebut ditetapkan oleh Bendahara Umum Negara sesuai dengan peraturan
pemerintah mengenai pengelolaan uang negara.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 32
Ayat (1)
Untuk kelancaran pelaksanaan tugas satuan kerja perangkat daerah, satuan kerja yang bersangkutan dapat
diberi persediaan uang kas untuk keperluan pembayaran yang tidak dapat dilakukan langsung oleh Bendahara
Umum Daerah kepada pihak yang menyediakan barang dan/atau jasa. Sehubungan dengan itu, diperlukan
pembukaan rekening untuk menyimpan uang persediaan tersebut sebelum dibayarkan kepada yang berhak. Tata
cara pembukaan rekening dimaksud, serta penggunaan dan mekanisme pertanggungjawaban uang persediaan
tersebut ditetapkan oleh Bendahara Umum Negara sesuai dengan peraturan pemerintah mengenai pengelolaan uang
daerah.
Ayat (2)
Cukup jelas
32
Pasal 33
Cukup jelas
Pasal 34
Cukup jelas
Pasal 35
Yang dimaksud dengan piutang negara/daerah jenis tertentu antara lain piutang pajak dan piutang yang diatur
dalam undang-undang tersendiri.
Pasal 36
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan bagian piutang yang tidak disepakati adalah selisih antara jumlah tagihan piutang
menurut pemerintah dengan jumlah kewajiban yang diakui oleh debitur.
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 37
Cukup jelas
Pasal 38
Cukup jelas
Pasal 39
Cukup jelas
Pasal 40
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Kedaluwarsaan sebagaimana dimaksud ayat ini dihitung sejak tanggal 1 Januari tahun berikutnya.
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 41
Cukup jelas
Pasal 42
Cukup jelas
Pasal 43
Cukup jelas
Pasal 44
Cukup jelas
Pasal 45
Cukup jelas
Pasal 46
Cukup jelas
Pasal 47
Cukup jelas
33
Pasal 48
Cukup jelas
Pasal 49
Ayat (1)
Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara dalam menetapkan ketentuan pelaksanaan pensertifikatan
tanah yang dimiliki dan dikuasai pemerintah pusat/daerah berkoordinasi dengan lembaga yang bertanggung jawab
di bidang pertanahan nasional.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Peraturan Pemerintah yang dimaksud pada ayat ini meliputi perencanaan kebutuhan, tata cara penggunaan,
pemanfaatan, pemeliharaan, penatausahaan, penilaian, penghapusan, dan pemindahtanganan.
Pasal 50
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas
Huruf e
Barang milik pihak ketiga yang dikuasai dimaksud adalah barang yang secara fisik dikuasai atau digunakan atau
dimanfaatkan oleh pemerintah berdasarkan hubungan hukum yang dibuat antara pemerintah dan pihak ketiga.
Pasal 51
Ayat (1)
Aset yang dimaksud pada ayat ini adalah sumber daya, yang antara lain meliputi uang, tagihan, investasi, dan
barang, yang dapat diukur dalam satuan uang, serta dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah dan diharapkan
memberi manfaat ekonomi/sosial di masa depan.
Ekuitas dana yang dimaksud pada ayat ini adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antara nilai
seluruh aset dan nilai seluruh kewajiban atau utang pemerintah.
Ayat (2) dan Ayat (3)
Tiap-tiap kementerian negara/lembaga merupakan entitas pelaporan yang tidak hanya wajib menyelenggarakan
akuntansi, tetapi juga wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan.
Pasal 52
Peraturan perundang-undangan yang berlaku adalah Undang-undang tentang kearsipan.
Pasal 53
Cukup jelas
34
Pasal 54
Cukup jelas
Pasal 55
Cukup jelas
Pasal 56
Cukup jelas
Pasal 57
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Dalam penyusunan standar akuntansi pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat ini, Komite Standar
Akuntansi Pemerintahan menetapkan proses penyiapan standar dan meminta pertimbangan mengenai substansi
standar kepada Badan Pemeriksa Keuangan.
Proses penyiapan standar dimaksud mencakup langkah-langkah yang perlu ditempuh secara cermat (due
process) agar dihasilkan standar yang objektif dan bermutu.
Terhadap pertimbangan yang diterima dari Badan Pemeriksa Keuangan, Komite Standar Akuntansi
Pemerintahan memberikan tanggapan, penjelasan, dan/atau melakukan penyesuaian sebelum standar akuntansi
pemerintahan ditetapkan menjadi peraturan pemerintah.
Ayat (3)
Keanggotaan Komite Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat ini berasal dari
profesional di bidang akuntansi dan berjumlah sebanyak-banyaknya 9 (sembilan) orang yang ketua dan wakil
ketuanya dipilih dari dan oleh anggota.
Pasal 58
Ayat (1)
Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara menyelenggarakan sistem pengendalian intern di bidang
perbendaharaan.
Menteri/pimpinan lembaga selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang menyelenggarakan sistem
pengendalian intern di bidang pemerintahan masing-masing.
Gubernur/bupati/walikota mengatur lebih lanjut dan meyelenggarakan sistem pengendalian intern di
lingkungan pemerintah daerah yang dipimpinnya.
Ayat (2)
Sistem pengendalian intern yang akan dituangkan dalam peraturan pemerintah dimaksud dikonsultasikan
dengan Badan Pemeriksa Keuangan.
Pasal 59
Ayat (1)
Kerugian negara dapat terjadi karena pelanggaran hukum atau kelalaian pejabat negara atau pegawai negeri
bukan bendahara dalam rangka pelaksanaan kewenangan administratif atau oleh bendahara dalam rangka
pelaksanaan kewenangan kebendaharaan.
Ganti rugi sebagaimana dimaksud didasarkan pada ketentuan Pasal 35 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara.
35
Penyelesaian kerugian negara perlu segera dilakukan untuk mengembalikan kekayaan negara yang hilang atau
berkurang serta meningkatkan disiplin dan tanggung jawab para pegawai negeri/pejabat negara pada umumnya,
dan para pengelola keuangan pada khususnya.
Ayat (2)
Pejabat lain sebagaimana dimaksud meliputi pejabat negara dan pejabat penyelenggara pemerintahan yang tidak
berstatus pejabat negara, tidak termasuk bendahara dan pegawai negeri bukan bendahara.
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 60
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Surat keputusan dimaksud pada ayat ini mempunyai kekuatan hukum untuk pelaksanaan sita jaminan
(conservatoir beslaag).
Dalam hal pejabat yang melakukan kerugian negara adalah menteri/pimpinan lembaga, surat keputusan
pembebanan penggantian kerugian sementara dimaksud diterbitkan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara
Umum Negara.
Dalam hal pejabat yang melakukan kerugian negara adalah Menteri Keuangan, surat keputusan pembebanan
penggantian kerugian sementara dimaksud diterbitkan oleh Presiden.
Dalam hal pejabat yang melakukan kerugian negara adalah pimpinan lembaga negara, surat keputusan
pembebanan penggantian kerugian sementara dimaksud diterbitkan oleh Presiden.
Pasal 61
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Surat keputusan dimaksud pada ayat ini mempunyai kekuatan hukum untuk pelaksanaan sita jaminan
(conservatoir beslaag).
Dalam hal pejabat yang melakukan kerugian daerah adalah Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah, surat
keputusan pembebanan penggantian kerugian sementara dimaksud diterbitkan oleh Kepala Satuan Kerja Pengelola
Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum Daerah.
Dalam hal pejabat yang melakukan kerugian daerah adalah Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah,
surat keputusan pembebanan penggantian kerugian sementara dimaksud diterbitkan oleh
gubernur/bupati/walikota.
Dalam hal pejabat yang melakukan kerugian daerah adalah pimpinan lembaga pemerintahan daerah, surat
keputusan pembebanan penggantian kerugian sementara dimaksud diterbitkan oleh Presiden.
Pasal 62
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan menindaklanjuti sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku adalah
menyampaikan hasil pemeriksaan tersebut beserta bukti-buktinya kepada instansi yang berwenang.
36
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 63
Cukup jelas
Pasal 64
Cukup jelas
Pasal 65
Cukup jelas
Pasal 66
Cukup jelas
Pasal 67
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Pengenaan ganti kerugian negara terhadap pengelola perusahaan umum dan perusahaan perseroan yang
seluruh atau paling sedikit 51% (lima puluh satu persen) sahamnya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia
ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan, sepanjang tidak diatur dalam undang-undang tersendiri.
Pasal 68
Cukup jelas
Pasal 69
Cukup jelas
Pasal 70
Pelaksanaan secara bertahap dimaksud disesuaikan dengan kondisi perbankan dan kesiapan sarana dan prasarana
pendukung.
Pasal 71
Cukup jelas
Pasal 72
Cukup jelas
Pasal 73
Cukup jelas
Pasal 74
Cukup jelas
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4355